Cerita ini berawal saat aku
mulai remaja, beranjak dewasa, mulai bisa berpikir lebih dewasa. Semuanya
terasa cepat berlalu tanpa aku sadari, hari-hari yang penuh dengan kesepian dan
kesendirian terus ada menemani hidupku.
Hari-hariku sepi adanya. Aku merenung,
membayangkan bagaimana kehidupan di luar sana. Pasti akan sangat menyenangkan jika
ada dering ponsel yang masuk. Ku lihat, ternyata seseorang yang amat berharga
datang tanpa di undang. Dengan kalimat
sederhana, “hai, lagi apa?” yang bisa mengguncangkan hati nurani, sungguh, aku
pasti tersanjung akan hal itu. Berbincang-bincang sampai tengah malam, sampai
ibu-ku memarahi ku karena aku belum tidur-tidur. Sayangnya, hanya sebatas
imajinasi, semua hanya sebatas mimpi, mimpi yang tak bisa terjadi.
Rasa sepi itu mulai memudar,
memudar dan makin lama menghilang, saat aku menemukan bagian dari hidupku, yang
akan bersama menemani hariku. Saat aku duduk
di samping gedung, aku melihat seseorang wanita turun dari mobil dengan
paras yang indah, wajah yang cantik, mata yang bersinar, bagaikan matahari yang
memancarkan sinarnya.
Aku ingin sekali menghampirinya
dan mengucapkan padanya, “Hai, aku Pras,” tapi apa daya rasa malu menghalangi
semua itu. Aku terus memikirkannya, sampai semua ini terasa menghipnotis diriku.
Aku seperti tidak punya ingatan tentang apapun, karena aku hanya mengingat
tentang dirinya. Adzan, adzan mengembalikan semuanya. Aku bangun dari tempat
peristirahatan ku dan mulai membasuh muka ku dengan dengan air wudlu. Aku mulai
bersujud memohon ampunan, dan mohon petunjuk atas apa yang aku alami.
Hari demi hari telah ku lewati.
Aku mencoba berusaha mendapatkan nomor ponsel miliknya lewat teman dekatnya.
Aku malu, apakah aku adalah laki-laki, yang hanya berani membuka debut
perkenalan dengan ponsel? Abaikan saja bila perlu. Aku memberanikan diri memperkenalkan
diriku padanya, “Hai, namaku Pras,” dengan lamanya aku menunggu balas pesan, akhirnya
dia-pun memberiku balasan, “Hai juga, aku Khalifa,” semua terasa sempurna saat
di akhir debut percakapan, ada emotikon titik dua kurung tutup yang menunjukan
manisnya senyuman, manisnya kehidupan, terimakasih. Saling bertanya tentang
kepribadian masing-masing. Aku dan dia sangat jauh dalam segi ekonomi, tetapi itu tak pernah aku pedulikan karena
aku tau itu tak penting. Hanya saja, aku tak tau apa yang akan terjadi
selanjutnya. Apakah dia akan menerima
aku apa adanya, apa dia akan pergi meninggalkan, karena aku tak pantas diberi
harapan.
Aku terus melangkah, aku terus
melangkah maju untuk mendekatinya. Berbagai perhatian dia berikan, senyuman dia
berikan, betapa besar harapan ku untuk bisa memilikinya. Aku mulai berbenah
diri, jangan sampai dia aku sakiti. Sempat berpikir, boleh kah, boleh kah aku
meminta senyumannya untuk mencampurkannya dengan kopi tanpa gula? Pasti tak
akan pahit rasanya. Rasa pahit akan kalah dengan senyumannya. Seperti itulah aku membandingkannya,
senyumnya bisa merubah segalanya.
Aku minta maaf jika joke yang aku lontarkan tak pernah lucu, maaf tidak bisa membuat
bahagia.
Aku minta maaf jika aku membosankan, aku
memang laki-laki yang payah.
Aku
Minta
Maaf…
Aku masih belum berani
mengungkapkannya. Bagaimana caranya, aku yang sosok pendiam dan pemalu ada di
kehidupan percintaan? Aku takut akan penolakan.
Haripun berganti, aku ingin
memberanikan diri. Kata-kata yang aku ciptakan berminggu-minggu, akan aku
kirimkan sebagai ucapan perasaan.
Kata demi kata aku bawakan,
kalimat demi kalimat aku tuangkan, paragraf demi paragraf mulai aku susun, aku
ingin mengungkapkan perasaanku padanya.
Tapi, seketika muncul
sorak-sorak gembira di dinding media sosialnya, aku tak tau. Saat aku sedang
sibuk-sibuknya merangkai kata, untuk mengungkapkan perasaan yang ada, dia malah
sudah menjalin hubungan dengan laki-laki yang lain. Sungguh, kejamnya percintaan.
Perasaan yang aku tanam-tanam bertahun-tahun, semuanya hancur gara-gara
seseorang yang tidak aku kenal. Apa artinya perhatian dan senyuman yang
diberikan, jika nantinya yang diberikan hanya sesakitan? Ah, aku tau. Mungkin
dia tidak mau menyakitiku. Terimakasih jika begitu.
Beberapa minggu
kemudian,
Saat
sekumpulan orang bebarengan mengumbar kemesraan di sosial media, aku hanya diam
tanpa bicara. Aku berharap tak ada lagi kisah, yang nantinya akan meresah. Aku
diam di kediaman sembari membaca. Aku takut akan keburukan waktu itu. Harapan
palsu, pembodohan, dan kebohongan. Semua itu selalu tergambar di logika.
Waktu itu tak sengaja berpapasan
di jalan, saat dia dalam kesendirian, saat dia tidak bersama pasangan. Dia aku
panggil, tapi entah kenapa dia mengabaikan. Padahal, aku tepat didepannya. Aku heran kenapa dia hanya memasang mimik muka
biasa, seolah aku belum pernah berkenalan dengannya?
But wait,
Tapi kenapa?
Kenapa, dia memanggiku saat dia sedang bersama pacarnya?
Kenapa? Apa maksud dari semua itu? Seburuk itukah perlakuannya? Sejahat itukah
perlakuannya? Tapi yang harus di ketahui, aku bukan seperti dia, aku tetap
tegar membalas sapaan, senyum bahagia, seperti orang gila saja rasanya.
Bodohnya aku, aku masih sering
membaca percakapan dahulu. Sambil mengingat-ingat lucunya perkenalanku dengan
dia, bahagia bersamanya, dan malunya aku saat bertemu dengannya. Hanya lewat
teman dekatnya, aku bisa dapat nomor ponselnya, tapi aku tak bisa menjadi
miliknya. Kini percakapan sampai tengah malam telah tiada. Aku bisa tidur jam
22.00 setiap harinya. Aku tidur nyenyak setiap harinya. Alhamdulillah, Ibu ku
juga tak pernah memarahi ku lagi gara-gara masalah tidur. Sekarang, aku dengan
dia sudah mempunyai jalan yang berbeda. Mimpi berbeda, kemauan yang juga
berbeda.
Terakhir,
Pesan untuk dia; belajarlah bersikap dewasa, ya. Jangan kebocahan
seperti dulu lagi. Kini, kau sudah besar. Dewasa, dan lebih berhati-hati dalam melakukan hal. Tetaplah menjadi wanita feminin. Baik dan murah senyum pada semua orang. Tetap jaga kondisi tubuh, sehat-sehatlah selalu, rajin
belajar, teruslah bahagia dengan pacarmu itu. Semoga kelak, bisa langgeng sampai tua
nanti. Tetaplah rajin beribadah, jangan lupa sholat, dan jangan pernah lupa untuk
makan. Makanlah sesukamu lupakan gengsi. Jangan takut gendut, percayalah kamu itu tidak gendut. Mereka salah jika menyebutmu gendut. Atas segalanya, terimakasih ya. Sampai jumpa di lain waktu, semoga kita bisa bertemu.
Itu saja pesan dariku.
Itu saja pesan dariku.
“Karena
denganmu, jatuh cinta adalah keikhlasan terpenjara walau kepadaku yang kau
sajikan hanya duka lara” (Distilasi Alkena, halaman : 100)

