Tuesday, April 18, 2017

UNTUK KAMU YANG PERNAH ADA DI HATI







                Cerita ini berawal saat aku mulai remaja, beranjak dewasa, mulai bisa berpikir lebih dewasa. Semuanya terasa cepat berlalu tanpa aku sadari, hari-hari yang penuh dengan kesepian dan kesendirian terus ada menemani hidupku.

                Hari-hariku sepi adanya. Aku merenung, membayangkan bagaimana kehidupan di luar sana. Pasti akan sangat menyenangkan jika ada dering ponsel yang masuk. Ku lihat, ternyata seseorang yang amat berharga datang tanpa di undang.  Dengan kalimat sederhana, “hai, lagi apa?” yang bisa mengguncangkan hati nurani, sungguh, aku pasti tersanjung akan hal itu. Berbincang-bincang sampai tengah malam, sampai ibu-ku memarahi ku karena aku belum tidur-tidur. Sayangnya, hanya sebatas imajinasi, semua hanya sebatas mimpi, mimpi yang tak bisa terjadi.

                Rasa sepi itu mulai memudar, memudar dan makin lama menghilang, saat aku menemukan bagian dari hidupku, yang akan bersama menemani hariku. Saat aku duduk  di samping gedung, aku melihat seseorang wanita turun dari mobil dengan paras yang indah, wajah yang cantik, mata yang bersinar, bagaikan matahari yang memancarkan sinarnya.

                Aku ingin sekali menghampirinya dan mengucapkan padanya, “Hai, aku Pras,” tapi apa daya rasa malu menghalangi semua itu. Aku terus memikirkannya, sampai semua ini terasa menghipnotis diriku. Aku seperti tidak punya ingatan tentang apapun, karena aku hanya mengingat tentang dirinya. Adzan, adzan mengembalikan semuanya. Aku bangun dari tempat peristirahatan ku dan mulai membasuh muka ku dengan dengan air wudlu. Aku mulai bersujud memohon ampunan, dan mohon petunjuk atas apa yang aku alami.

                Hari demi hari telah ku lewati. Aku mencoba berusaha mendapatkan nomor ponsel miliknya lewat teman dekatnya. Aku malu, apakah aku adalah laki-laki, yang hanya berani membuka debut perkenalan dengan ponsel? Abaikan saja bila perlu. Aku memberanikan diri memperkenalkan diriku padanya, “Hai, namaku Pras,” dengan lamanya aku menunggu balas pesan, akhirnya dia-pun memberiku balasan, “Hai juga, aku Khalifa,” semua terasa sempurna saat di akhir debut percakapan, ada emotikon titik dua kurung tutup yang menunjukan manisnya senyuman, manisnya kehidupan, terimakasih. Saling bertanya tentang kepribadian masing-masing. Aku dan dia sangat jauh dalam segi ekonomi,  tetapi itu tak pernah aku pedulikan karena aku tau itu tak penting. Hanya saja, aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah  dia akan menerima aku apa adanya, apa dia akan pergi meninggalkan, karena aku tak pantas diberi harapan.

                Aku terus melangkah, aku terus melangkah maju untuk mendekatinya. Berbagai perhatian dia berikan, senyuman dia berikan, betapa besar harapan ku untuk bisa memilikinya. Aku mulai berbenah diri, jangan sampai dia aku sakiti. Sempat berpikir, boleh kah, boleh kah aku meminta senyumannya untuk mencampurkannya dengan kopi tanpa gula? Pasti tak akan pahit rasanya. Rasa pahit akan kalah dengan senyumannya.  Seperti itulah aku membandingkannya, senyumnya bisa merubah segalanya.

 Aku minta maaf jika joke yang aku lontarkan tak pernah lucu, maaf tidak bisa membuat bahagia.


 Aku minta maaf jika aku membosankan, aku memang laki-laki yang payah.

Aku

Minta

Maaf…


                Aku masih belum berani mengungkapkannya. Bagaimana caranya, aku yang sosok pendiam dan pemalu ada di kehidupan percintaan? Aku takut akan penolakan.

                Haripun berganti, aku ingin memberanikan diri. Kata-kata yang aku ciptakan berminggu-minggu, akan aku kirimkan sebagai ucapan perasaan.






                Kata demi kata aku bawakan, kalimat demi kalimat aku tuangkan, paragraf demi paragraf mulai aku susun, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya.

                Tapi, seketika muncul sorak-sorak gembira di dinding media sosialnya, aku tak tau. Saat aku sedang sibuk-sibuknya merangkai kata, untuk mengungkapkan perasaan yang ada, dia malah sudah menjalin hubungan dengan laki-laki yang lain. Sungguh, kejamnya percintaan. Perasaan yang aku tanam-tanam bertahun-tahun, semuanya hancur gara-gara seseorang yang tidak aku kenal. Apa artinya perhatian dan senyuman yang diberikan, jika nantinya yang diberikan hanya sesakitan? Ah, aku tau. Mungkin dia tidak mau menyakitiku. Terimakasih jika begitu.

Beberapa minggu kemudian,

                Saat sekumpulan orang bebarengan mengumbar kemesraan di sosial media, aku hanya diam tanpa bicara. Aku berharap tak ada lagi kisah, yang nantinya akan meresah. Aku diam di kediaman sembari membaca. Aku takut akan keburukan waktu itu. Harapan palsu, pembodohan, dan kebohongan. Semua itu selalu tergambar di logika.

                Waktu itu tak sengaja berpapasan di jalan, saat dia dalam kesendirian, saat dia tidak bersama pasangan. Dia aku panggil, tapi entah kenapa dia mengabaikan. Padahal, aku tepat didepannya.  Aku heran kenapa dia hanya memasang mimik muka biasa, seolah aku belum pernah berkenalan dengannya?

But wait,

Tapi kenapa?

                Kenapa,  dia memanggiku saat dia sedang bersama pacarnya? Kenapa? Apa maksud dari semua itu? Seburuk itukah perlakuannya? Sejahat itukah perlakuannya? Tapi yang harus di ketahui, aku bukan seperti dia, aku tetap tegar membalas sapaan, senyum bahagia, seperti orang gila saja rasanya.  

                Bodohnya aku, aku masih sering membaca percakapan dahulu. Sambil mengingat-ingat lucunya perkenalanku dengan dia, bahagia bersamanya, dan malunya aku saat bertemu dengannya. Hanya lewat teman dekatnya, aku bisa dapat nomor ponselnya, tapi aku tak bisa menjadi miliknya. Kini percakapan sampai tengah malam telah tiada. Aku bisa tidur jam 22.00 setiap harinya. Aku tidur nyenyak setiap harinya. Alhamdulillah, Ibu ku juga tak pernah memarahi ku lagi gara-gara masalah tidur. Sekarang, aku dengan dia sudah mempunyai jalan yang berbeda. Mimpi berbeda, kemauan yang juga berbeda.

Terakhir,

                 Pesan untuk dia;  belajarlah bersikap dewasa, ya. Jangan kebocahan seperti dulu lagi. Kini, kau sudah besar. Dewasa, dan lebih berhati-hati dalam melakukan hal. Tetaplah menjadi wanita feminin. Baik dan murah senyum pada semua orang. Tetap jaga kondisi tubuh, sehat-sehatlah selalu, rajin belajar, teruslah bahagia dengan pacarmu itu. Semoga kelak, bisa langgeng sampai tua nanti. Tetaplah rajin beribadah, jangan lupa sholat, dan jangan pernah lupa untuk makan.  Makanlah sesukamu lupakan gengsi. Jangan takut gendut, percayalah kamu itu tidak gendut. Mereka salah jika menyebutmu gendut. Atas segalanya, terimakasih ya. Sampai jumpa di lain waktu, semoga kita bisa bertemu.


Itu saja pesan dariku.





“Karena denganmu, jatuh cinta adalah keikhlasan terpenjara walau kepadaku yang kau sajikan hanya duka lara” (Distilasi Alkena, halaman : 100)



Share: