Aku masih duduk dan berdiskusi dengan teman-temanku tentang kehidupan dewasa ini. Lalu, salah satu temanku menunjukkanku satu vidio motivasi dari orang yang sangat terkenal di jagat sosial media. Pandai dia berbicara. Tapi apakah aku senang dengan itu? Tentu tidak. Setelah vidio itu usai, satu temanku lagi menunjukanku artikel tentang ramalan zodiak, dia percaya bahwa ramalan itu akan terjadi hari ini. Bahkan dia sempat menanyakan apa zodiak-ku. "Gemini," jawabku.
Dia lantas menjelaskanku sebuah artikel yang di dalamnya dimuat ramalan percintaan, sikap, hingga hal yang akan terjadi hari ini. Bahkan semua itu update setiap hari! Blablabla. Bukannya aku percaya, aku hanya penasaran.
Bagiku; quotes, vidio motivasi, dan ramalan zodiak adalah kumpulan kata-kata omong kosong. Aku pernah membaca buku berjudul "Meditations" karya Marcus Aurelius. Di dalam buku itu dijelaskan bahwa, "If you live by what you heard or what you saw or what people say, you will never achieve happiness."
"Jika kau terus hidup berdasarkan apa yang kau dengar, apa yang kau lihat, apa yang dibicarakan orang lain, kau tidak akan pernah meraih kebahagiaan."
Maksudku, jangan pernah mau hidup berdasarkan omongan orang lain, mereka hanya berbicara berdasarkan kisah mereka dan kisahmu dengan kisah mereka itu berbeda. Di sini kau yang menjalani, jadi yang lebih paham tentang hidupmu ya dirimu. Bukan kata-kata kontol yang sering muncul di FYP Tiktok.
Kepercayaanmu adalah dirimu dan agamamu, bukan quotes Mario Teguh atau Putri Tanjung (yang katanya pernah rugi 800 juta lalu stres mengurung 3 hari di kamar, berhasil comeback dan menjadi miliarder muda, setelah ditelusuri ternyata dia anak manusia terkaya ke-3 di Indonesia, Chairul Tanjung). Aku, kau mungkin, rugi 5 juta saja pasti sudah terbesit pikiran untuk mengakhiri hidup.
Setiap manusia hidup dengan problematika yang berbeda. Kata-kata yang sering muncul di mulut mereka, ya masalah mereka. Bukan masalahmu. "Tapi kan sama!" Tidak. Tidak! Mereka-pun aku yakin masih bingung bagaimana menyelesaikannya.
Orang-orang yang pandai berbicara tentang masalah hidup biasanya adalah orang yang susah menjalani hidup. Oleh sebab itu mereka mencoba meyakinkan dirinya sendiri, memotivasi diri sendiri agar mampu menghadapi masalahnya. Hanya saja mereka selipkan diksi supaya susunan kata-katanya lebih menarik untuk didengar orang lain.
Seharusnya kau, aku, kita semua sadar bahwa tidak ada yang benar-benar sanggup menghadapi problematika hidup ini. Kau yang menjalani, kau yang paham cara menghadapi. Ibarat naik tangga, kau paham caranya naik ke atas, kau-pun tau bagaimana caranya untuk turun.