Sunday, September 26, 2021

Percakapan Sore

Kali ini Jono berada dalam pilihan sulit. Memutus hubungannya dengan Risa atau tetap bertahan. Setelah lebih dari setahun hubungan mereka berjalan, Jono mulai sedikit berubah. Hal itu membuat hubungan mereka renggang. Seminggu tidak berbalas pesan sudah biasa, meski Risa juga sering menelpon. Jono kesal mendengar amarah Risa, karena pada akhirnya dialah yang dituntut minta maaf. Sedangkan itu tidak penting. Bertengkar, bertengkar, dan bertengkar. Mungkin ini yang dikatakan tiba-tiba hilang rasa, menurut Jono.

9 Agustus 2018 setelah 2 bulan lebih mereka tidak bertemu, Risa menghampiri rumah Jono dengan alasan rindu. Risa tau dia sedang di rumah main playstation sendirian. Tidak ada teman-temannya. Risa tau jika Jono tidak punya teman dekat. Bahkan beruntung Jono dulu bisa mendapatkan hati Risa.

"Assalamualaikum," Risa.
"Waalaikumsalam," balas Jono.


Dan benar apa dugaan Risa. Jono sedang main playstation sendirian.

Jono : "Haduh, aku lagi males berantem Ris."
Risa : "Aku kesini ngga ngajak berantem, aku cuma butuh penjelasan aja."
Jono : "Penjelasan apa, sih."

Jono benar-benar belum siap menjawab segala aduan Risa kepadanya. Jono sedikit bersandiwara.

Risa : "Ngga usah pura-pura bodoh, kamu itu pinter."
Jono : "Baik, Ris. Oke. Duduk dulu, ya aku bikinin minum."
Risa : "Ngga usah, aku udah bawain boba langganan kita."


*Risa duduk*

Risa benar-benar berada dalam posisi benci dan marah. Kelemahan Risa adalah, dia selalu hilang kata ketika berhadapan dengan Jono. Bahkan menatap mata Jono terlalu lama saja Risa tidak bisa. Pada akhirnya, hal yang bisa Risa lakukan adalah menangis.


Jono : "Lah kok kamu malah nangis. Kalo kamu nangis aku jadi ngrasa jadi orang jahat Ris."
Risa : "Emang, kamu orang jahat."


Jono semakin tak enak hati dan memikirkan cara bagaimana menenangkan hati Risa.

Jono : "Risa, aku minta maaf."
Risa : "Maaf, maaf, dan maaf, gitu aja terus."
Jono : "Lantas apa lagi?"
Risa : "Aku tau kok kalo aku ga asik, bosenin, egois, ngga cantik seperti temen-temen cewek kamu."
Jono : "Loh kok kamu malah bilang gitu, aku sedikitpun ngga pernah mikir gituan sumpah."
Riaa : "Kamu berubah Jono, dan aku butuh penjelasan."


Jono semakin tertekan, Ia masih menolak memberikan sedikit penjelasan kepada Risa.

Jono : "Risa, tenangin dulu. Aku berubah seperti apa? Ultraman?"
Risa : "Ngga lucu bodoh."
Risa : "Jono aku butuh penjelasan."


Jono akhirnya membuka gerbang mulutnya untuk bicara. Ia menghembuskan nafas perlahan sebagai tanda keseriusan Jono. Kali ini gaya bicara Jono sedikit berbeda.

Jono : "Risa, kamu ingat kata-kataku dulu tentang mencintai manusia?"

Mendengar ucapan Jono tersebut malah membuat Risa semakin marah.

Risa :" Jangan terlalu mencintai manusia? Semudah itukah, Jon? Aku udah nyoba, bahkan waktu kamu ngilang setiap hari entah sibuk ngapain. Sibuuuk terus, bales chat lama, ditelpon ngangkatnya lama. Aku tuh kangen kamu Jon, secinta itu aku sama kamu. Terus, sekarang kamu bilang jangan terlalu mencintai manusia? Sekarang jawab aku, i love you."

Jono terdiam, hatinya menolak untuk mengucapkan i love you too.

Jono : "Ris."
Risa : "Mana? Kok ngga jawab. Baik, sekali lagi ya Jono. I love you."


*Jono terdiam*


Risa : "Oke, baik. Kamu udah ngga mau lanjutin hubungan ini."
Risa : "Jono, kita putus ya. Makasih anjing."
Jono : "Risa, jangan nyudutin seolah-olah aku yang jahat. Aku begini juga demi kamu."
Risa : "Hah? Goblok banget."

Jono : "Daripada kamu terus sakit hati pacaran denganku, lebih baik aku menjauh. Aku tidak ingin menyakiti hati orang lain, Ris."

Risa : "Tapi perbuatanmu itu bikin aku sakit hati Jono, otakmu itu lho dipakai. Kamu boleh berlagak paling pintar didepanku, tapi soal hati kamu benar-benar tolol Jon. Harusnya kamu beruntung bisa denganku, aku sabar ngadepin kamu."


Jono lalu memalingkan wajah dan menghadap arah lain, sedikit muak dengan tetesan air mata Risa. Namun Jono juga bingung bagaimana cara menjelaskan isi hatinya.

Jono : "Kemarin aku ke toko buku dan sempat membuka beberapa lembar halaman buku disana. Ada sepenggal kalimat yang bagiku itu pas banget sama kita, Ris."

Jono : "Jika sekiranya sudah hilang, lebih baik lupakan daripada menyakitkan."

Jono : "Aku ngga tau kenapa bisa hilang rasa, Ris. Kamu orang baik, selayaknya kamu harus menerima kebaikan juga Ris. Jika terus menangis didepanku, itu hanya akan membuatku ingin meninggalkanmu."

Jono : "Aku minta maaf, aku enggan membuatmu semakin terbebani karena harus mencintai laki-laki sepertiku. Di banding denganku, kau lebih layak mendapat yang terbaik di dunia. Kamu ngga perlu repot-repot marah apalagi buang-buang air mata lagi, Ris."

Risa : "Aku ga habis pikir sama pola pikirmu, Jon. Tapi jika itu yang terbaik, aku pamit."

Jono lantas menggenggam tangan Risa dengan penuh rasa bersalah, ada tetesan air mata di atasnya. Sangat deras.

Jono : "Bolehkah aku mengantarmu sampai rumah untuk terakhir kali?"

Risa : "Jon.."

Jono : "Terimakasih."

Di banding mempertahankan hubungan yang tak menentu, melepaskan adalah cara yang paling baik. Setiap manusia layak dicintai, bukan disakiti. 
Share: