Tuesday, May 26, 2026

Review King Emyu 25/26

Rollercoaster musim ini akhirnya ditutup dengan akhir yang manis. Mas-Mas Portugal, Bruno Fernandes sah jadi Player of the Season. 21 assist, jadi rekor terbanyak (satu musim) dalam sejarah liga. Bukti nyata kalau dia emang masih jadi roh permainan Emyu yang gak ada gantinya. Aku ngerasa yang bisa passing cuma dia, sih. Wkwk. Tapi jujur, kejutan paling wow tuh si Luke Shaw gak sih? Baru kali ini sepanjang karirnya di Emyu, dia bisa konsisten main 38 match beruntun di Premier League, tanpa cedera sama sekali. Tumben banget fisiknya jadi setangguh itu. Orang bilang, karena mendekati World Cup, tapi Bapak-Bapak Jerman keturunan Adolf Hitler itu ga masukin dia dengan alasan taktikal. Peh!


Kalo balik ke awal musim, ingat-ingat lagi deh. Waktu Emyu masih dinahkodai sama Amorim. Jujur, pembelian pemain dia emang gak kaleng-kaleng, langsung ngubah wajah tim. Di bawah mistar, dia buang Mas-Mas Kamerun dan ngambil Senne Lammens yang usianya masih 23 tahun. Mungkin masih banyak yang harus dibenahi, tapi seenggaknya dia bisa nangkep bola. Ya ampun sedih amat. Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, Matheus Cunha kompak masing-masing sukses tembus 10 gol musim ini. Gacor!


FYI, sebelum musim dimulai Amorim emang gencar banget buang-buang pemain yang gak sesuai sama idealismenya. Ngga peduli nama besar seperti Rashford, Victor, Eriksen, Rasmus, Antony... Udah, yang gak disebutin berarti pemain idiot. 


Kenapa aku bilang rollercoaster? Inget gak sama formasi 3-4-3 andalan Amorim itu. Sumpah batu banget. Puncaknya itu bukan cuma soal taktik, tapi hubungan Amorim sama Kobbie yang ga baik-baik aja. Kobbie ngerasa skema 3-4-3 itu ngebatesin kreativitasnya, sementara Amorim bilang Kobbie itu satu posisi dengan Bruno. Kalo mau main reguler ya harus saingin dulu itu si Bruno. Eh dicadangin terus si Kobbie. Mana Emyu mainnya jelek banget, beneran, kalo pun menang pasti ugly win. Jelek banget asli. Puncaknya pas rentetan hasil jeblok udah jadi hobi dan posisi Emyu melorot jauh dari zona Eropa, Emyu langsung ambil keputusan ekstrem: Amorim dipecat di tengah jalan! Bener-bener stres pas momen itu. Kenapa? Karena udah muak ganti-ganti pelatih mulu. Bro, 13 tahun 10 pelatih!


Nah, pas lagi hancur-hancurnya, tiba-tiba Emyu nunjuk Carrick jadi caretaker. Edan, Carrick langsung ngerombak taktik secara instan. Dia buang sistem tiga bek yang idiot itu dan balik ke pakem klasik: 4-3-3. Di sinilah keajaiban Carrick kelihatan, trio Casemiro, Bruno, dan Kobbie seolah jadi main character di lapangan. Casemiro musim ini, wow. I have no word to say. Dari situ, kebangkitan yang tadinya kelihatan mustahil malah beneran terjadi. Emyu perlahan naik klasemen menuju zona Eropa.


Di bawah Carrick, mereka bak monster yang bangkit dari kematian! Keajaiban itu bener-bener nyata. Bahkan match yang ga aku sangka menang, seperti pas lawan City, Arsenal, sampe back to back menang lawan Liverpool, itu memorable banget musim ini. 


Rentetan kemenangan itu akhirnya jadi epic comeback terbesar musim ini. Dari tim yang sempet hancur lebur, Emyu secara luar biasa langsung nyodok naik sampai akhirnya finish di posisi 3! Ya meskipun ga pernah menang 5 kali beruntun, tapi siapa sih yang peduli selain Mas-Mas Gondrong itu?  


Meski kegacoran Carrick berasa keajaiban, kalo kalian inget lagi, ya. Musim ini itu ada satu momen tolol di mana Emyu dapet jadwal kosong dan nganggur sampai 24 hari. Bener. Hampir satu bulan ga main bola! Alih-alih bikin stamina naik, jeda sepanjang itu malah bikin Emyu lupa cara main bola. Loyo banget cik. Imbasnya instan dan ngelarani: Kalah lawan Leeds. Asu.


Walaupun begitu, endingnya, posisi ketiga berhasil diamanin. Tiket Liga Champions udah di tangan. Selesai? Belum. Musim depan Emyu kudu membagi fokus di empat kompetisi sekaligus: Premier League, UCL, serta kompetisi domestik kayak FA Cup dan Carabao Cup. Masalahnya, ujian terberat bukan cuma soal jadwal, tapi soal kedalaman skuad.


Casemiro pergi.


Kehilangan Case otomatis ninggalin lubang gedhe di pos Defensive Midfielder. Bruno dan Kobbie jelas butuh tandem baru. Sekarang, Emyu punya PR besar yang gak bisa ditawar: mereka harus berburu di bursa transfer. 


So.... Musim baru nanti bakal jadi pembuktian: apakah Carrick bisa tetep sakti atau KING EMYU justru bakal hancur lebur di tengah padatnya kompetisi?

Share:

Monday, July 7, 2025

RUMAH

 "Rumah itu sudah lama mati." Katamu, baik-baik saja. Sembari berdoa kelak rumah itu hidup kembali dengan penghuni baru. "Baunya busuk dan berantakan, aku sudah meninggalkannya tanpa rasa sesal," lanjutmu. 


Terlalu liar aku memikirkan rumah mana lagi yang akan kau singgahi, jauh sebelum itu. Ku usahakan rumah yang kau singgahi nanti lebih baik dari sebelumnya. Meski rumah itu tergolong sederhana, ku jamin pondasinya kuat, ruangannya bersih, banyak buku, bunga—dan barangkali kau ingin menatap rasi bintang, tak perlu risau sebab tersedia teleskop kecil di sana. 


Ku pastikan aroma rumah lamamu benar-benar sirna, hanyut dan mati tergantikan wangi kopi, atau paling tidak kau bisa mencium harum bunga melati di pagi hari.


Namun, dari semua yang ku janjikan, kau hanya menatapku hampa. Seolah rumah yang kau maksud bukan sekadar bangunan dengan jendela dan pintu, bukan kumpulan buku dan bunga-bunga bermekaran—melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, barangkali lebih menyakitkan.


Rasanya baru kemarin kau meludahi setiap kenangan yang melekat pada sudut ruang rumah itu. 


"Busuk dan berantakan."

"Aku sudah meninggalkannya tanpa rasa sesal."


Nyatanya, kau masih sama saja. Kembali dan memunguti pecahan demi pecahan gelas itu, kau satukan kembali seolah tak ada gelas lain di seberang sana. Kurang dari seratus hari. Konsistensimu berubah menjadi satu gelas ludah yang kau minum kembali.


"Rumah lamaku masih menjadi seonggok puing yang merana, dan kini aku datang dengan tekad untuk membangunnya kembali dari awal."


Dengan level kesadaran tingkat tinggi, kau menamparku dengan realitasmu. Kau kembali ke rumah lama. Rumah yang kau sebut sudah mati, bau busuk dan berantakan itu kau bersihkan dan poles dengan warna yang baru. Dinding yang kusam kini cerah, lantai yang berdebu kini bersih, teras rumah yang padam kini bercahaya.


"Lambat laun, manusia berubah. Setelah apa yang aku alami, singgah di rumah baru bukanlah hal yang mudah. Rumah lama itu, terus berbisik dan menghantuiku," pungkasmu.


"Yy.. Ya, kau benar," balasku.


Semoga rumah lamamu, yang kini kau tempati lagi, benar-benar bisa hidup kembali. Semoga kau temukan damai di sana, menemukan apa yang selama ini kau cari—dan semoga kali ini, rumah itu tak lagi membuatmu ingin pergi. 


Aku tahu satu hal: terkadang, rumah sejati bukanlah yang dibangun dengan pondasi kuat dan atap terbuka, melainkan yang hatimu rindukan untuk kembali, apa pun baunya, dan seberapa pun berantakannya.


Aku hargai keputusanmu dan mendoakan yang terbaik untukmu. 

Share:

Monday, November 7, 2022

Morphin

 "Berhenti melakukan hal bodoh."

"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang tidak penting."

Hidup harus serius, katamu—dan sepertinya hidup dengan manusia sepertiku bukanlah pilihanmu.

Dulu aku sempat bingung dengan konsep hubungan orang dewasa itu seperti apa. Kenapa begini begitu dibilang alay, norak,  bahkan salah. Lalu aku sadar ketika melihat pasangan lain dengan usia yang sama melakukan hal yang sering ku lakukan (kepadamu) dan mereka tak masalah. Faktanya, kita memang berseberangan. Kita bukanlah pasangan yang cocok.

"Berhenti melakukan hal bodoh."

"Bisakah kau berhenti sok dewasa dan singkirkan sejenak masalah hidupmu?" (yang katamu paling berat sedunia)

"Sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang tidak penting."

"Bukankah hidup harus seimbang?"

Tidak ada hubungan yang seratus persen sama. Bahkan Indonesia-pun, memiliki banyak bahasa, tapi mampu disatukan oleh satu bahasa, bahasa Indonesia. Di balik segala perbedaan prinsip kita, (kita ingat lagi) pasti ada hal yang kita berdua sama-sama sukai. Selera musik mungkin, atau makanan favorit? Apapun itu, kita harusnya bisa lebih melihat hal baik itu—dan, jika kamu tetap bersikeras memintaku berubah menjadi seperti apa yang kamu mau, sama seperti aku memintamu untuk berubah menjadi seperti apa yang aku mau, bukankah kenyataannya kita sama-sama egois?

Share:

EPILOG 2022

 Jika tiba-tiba ada orang yang datang mengetuk pintu hatimu dengan serius, terimalah dia dengan kesungguhan hati. Dia adalah jawaban dari segala doamu. Jangan pikirkan aku, aku hanyalah bahan lelucon di dunia ini. Jikapun hatiku sedang hancur dipukul dunia, lebih baik aku saja yang merasakan. Kirana, kau tidak pantas tersakiti. Kau adalah sumber kebahagiaan semua orang.

Masih banyak di luar sana yang menunggumu bahkan jauh lebih baik dariku. Jauh seperti jarak bumi dengan matahari. Sambutlah mereka satu per satu, dan jika salah satu dari mereka datang dengan janji sehidup semati, peluklah dia. Biarkan dia memasang cincin di jari manismu, menatap indahnya matamu, dengan disaksikan keluargamu. Selang beberapa bulan, kau hidup dengannya. Rumah sudah tersedia, mobil ada, tempat tidur dengan ruang tamu terpisah, kau bisa nongkrong bersama teman gengmu di cafe terdekat, update story setiap hari. Itu hidup yang kau mau bukan?

"Ngga ada yang perlu diperdebatkan lagi, Kir. Buat apa berlagak tersakiti di depan wajahku, menangis memohon hal yang belum bisa aku penuhi. Untuk apa?"

Pilihlah laki-laki yang mapan dan siap mendampingimu. Kau tidak akan menyesal! Aku jamin! Rasa penasaranku terhadap dunia masih menggebu-gebu. One Piece belum tamat, Kawaki belum hancurkan Konoha. Masih.. Masih banyak mimpi yang belum aku raih, masih banyak gunung yang belum aku daki, masih banyak festival band yang belum aku datangi. Aku, masih ingin menikmati masa muda ku dengan senang-senangnya——dan aku, enggan seorang pun datang merusaknya.

Share:

Kamuflase

Sudah hampir larut malam aku masih berdiskusi tentang sesal kepergianmu. Pikiranku terbelah dua antara bersalah dan tidak bersalah. Entahlah, ego manusia memang sulit dikalahkan.


"Hari ini aku masak sop iga, loh." 

"Yaelah, sop mah gampang tinggal campurin garam sama air terus jadi," ejekku.


Kau marah.


Panjang sekali chatmu. Bagiku kau lucu ketika sedang marah. Cerewet, persis seperti Ibu ketika sedang menasihatiku. Mungkin itu satu alasan  juga kenapa aku menyukaimu. 


Kita selalu membicarakan tentang ketidaksabaran akan hari esok. Dulu aku pikir akhir pekan adalah hari yang dinanti. Bahkan ketika sudah terlewati. Selalu ada rencana bahkan jauh-jauh hari. 


"Besok temenin aku ke Pasar Kosambi, ya."


Sudah menjadi kebiasaan ketika kau menemukan vidio makanan di Instagram. Hampir setiap hari pemberitahuan ponsel-ku dipenuhi tag vidio akun-akun foodvlogger. Kau selalu penasaran ingin mencoba dan aku adalah kelinci percobaan setiap resep barumu. 


Aku lalu menelpon Ibu dan berbicara tentang banyak hal hari itu. Bukan tentang harga bunga atau  harga kiloan rempah-rempah. Tapi tentang bagaimana aku bisa menemukan sosok sepertinya. Sosok periang dan jago masak. Ibuku tertawa dan penasaran dengan  masakanmu. Kala itu kau malu, tapi bagiku itu wajar.


"Masak apa, Nak." Ibuku.

"Tolong, Bu. Aku mau diracunin!!" Balasku.

"Astaghfirullah enggak! Hihhhhhh!" Balasmu.


Ada janji yang belum kau tepati pada Ibuku, kau akan membawakan masakanmu pada Ibuku saat pulang kampung nanti.


Tapi, kita 

malah sudah usai

sebelum itu.


Kau selalu membuatku yakin bahwa dengan hadirmu hidupku akan lebih berwarna. Satu hal yang ingin aku tanyakan, lantas kepada siapa  lagi (kini) kau mengirimkan foto makanan setelah tidak denganku?

Share:

Kirana

 Haruskah aku berusaha menjadi seperti apa yang kau mau. Apa yang selalu kau banggakan ketika bercerita denganku? Sungguh, itu hanya menyiksa diriku.


Aku tau itu hal bodoh. Tapi bagaimana bisa, rasa ketakutan akan kehilanganmu itu terus bergejolak? Aku takut, kau pergi dan bertemu orang yang lebih baik dariku.


Maaf aku egois, perihal itu. Kirana, aku hanya ingin dianggap sempurna olehmu. Menjadi sosok laki-laki yang sesuai standarmu, menjadi sosok laki-laki yang sering kau idamkan ketika bercerita, menjadi sosok lucu yang bisa mewarnai harimu, aku; ingin menjadi apapun yang kau mau.


Asal, kau jangan pergi.


Kirana, apakah boleh aku menjadi diri sendiri suatu saat nanti? Menjadi apa adanya dan ya; ini aku. Tepat di depan wajahmu. Mengeluh perihal dunia. Apakah kamu akan tetap bertahan menghadapi sikapku?


Denganmu, aku merasa seperti orang yang pertama kali menginjakkan kaki ditempat baru. Manusia, udara, suasana, letak rumah, semuanya begitu asing. Tentu aku harus beradaptasi dan menyesuaikan segala hal agan setara denganmu. Ini adalah bagian yang sulit. Aku sampai heran, kenapa aku bisa berada di titik ini.


Mendapatkanmu adalah harta karun bagiku. Entah kenapa bisa kau mau denganku, Kirana. Tapi aku juga senang bisa bersamamu. Meskipun, entah seperti apa ujungnya. Aku tidak tau.


Share:

EGO

 Sudah lebih dari sepekan kita tak kunjung usai bertikai. Entah apa, salah siapa. Individualis tetap menjadi masalah kita, sedari dulu. 


Kita saling menggenggam waktu. Tidak ada keterbatasan dalam kita bercakap. Kita, punya waktu luang tapi menolak menyapa dulu. Mungkin jika diibaratkan, kita seperti sedang ada pada ruangan yang sama. Anggaplah satu kelas. Kita saling melihat, kita tau kesibukan masing-masing, tapi kita enggan menyapa.


Haruskah aku meminta maaf terlebih dulu? Tapi apa salahku? Terlalu rumit bagiku untuk memahami isi kepalamu. Aku bukan peramal juga bukan manusia sakti. Bagaimana mungkin masalah ini usai jika  kita menolak berdiskusi?


Haruskah aku mengemis? Haruskah aku sujud di depanmu dan mengharap belas kasihanmu? Menyebalkan sekali. Bagiku, untuk apa memperjuangkan seseorang yang tak mau diperjuangkan. 


Bukankah kita sudah dewasa?

Bukankah kita saling mendewasakan?


Tentu, justru itu yang menjadi masalah. Sebagai sosok dewasa kita paham betul rasanya kehilangan—dan kita saling mewajari itu. "Yaudahlah" Kalau sudah begitu ya mau bagaimana lagi. Faktanya, dibanding harus memperbaiki, kita lebih memilih mengikhlaskan. Apakah hubungan ini hanya sebatas  penampung cerita? Hubungan yang kembali putih saat banyak dilanda gundah, lalu kita saling berkeluh kesah tentang kebodohan hidup ini. Buruknya, mungkin ketika masalah itu selesai kita kembali hitam.


Kita cenderung menolak hal-hal kecil seperti; selamat pagi, sedang apa, udah makan. Dengan alasan norak dan kebocahan. Lantas seperti apa hubungan orang dewasa? Ucapan semangat berangkat kerja dan bagaimana hari ini? Menyebalkan sekali. Tidak ada lucu-lucunya. Terlalu serius. Mati saja kau dibunuh dewasa. Salama ego masih tertidur pulas dalam diri kita, kita tetaplah sepasang anak kecil yang sok-sokan menjadi orang dewasa. 

Share: