Entah percaya manalagi yang mesti aku yakini. Terlalu sulit mencari orang yang mampu memberikan kita jalan yang benar dan memahami setiap kesulitan. Saat aku yakin bahwa orang-orang yang ada di sekelilingku adalah manusia kiriman Tuhan yang bertugas untuk memberikan ketulusan dan menuntun jalan yang paling baik demi tercapainya kebaikan bersama. Namun salah, aku terlalu terlena di dalamnya hingga pada saatnya aku sadar. Aku hanya diberikan kesemuan. Kenyamanan sementara. Hingga pada akhirnya kudapati diri di dalam lubang. Gelap dan sempit.
Aku ingin berlari menjauh dan menemukan dunia yang bisa menerimaku-pun dengan kekurangan yang aku miliki. Meski di dunia itu aku sendiri. Menonton sendiri, membuat makanan sendiri, belajar sendiri, menghimpun kesedihan sendiri. Tak apalah, yang penting aku merasa dihargai oleh kesepian.
Aku kelelahan di tengah keramaian. Aku kehabisan bahan bakar walau sekedar berbagi bahagia. Entah bahagia yang mana aku maksud. Sepertinya aku sudah tidak punya lagi. Aku terlalu sibuk merinci sakit hati yang tak dimengerti oleh siapapun. Aku juga masih dipusingkan oleh keadaan yang terus memaksaku untuk bertahan. Terkadang memintaku untuk melakukan hal-hal yang tak aku senangi. Coba bayangkan kau melakukan sesuatu namun hal itu sangat bertentangan dengan hatimu. Kau tiba-tiba memberontak dan ingin terlepas dari kungkungan ketidaksepahaman. Orang-orang menyebut hal ini dengan idealisme. Kuharap kau sepakat denganku. Jangan terlalu mau didikte oleh orang lain. Meski kau berjalan sendiri setidaknya kau masih punya prinsip.
Ada satu hal di dalam diriku yang paling tidak aku senangi. Membenci orang-orang sekitarku. Aku tidak suka hal ini. tapi harus aku lakukan. Aku juga kurang paham kenapa aku harus membenci mereka. Toh, biasanya ini terjadi karena disebabkan oleh satu orang saja. tapi dengan alasan seperti apa bisa berimbas kesemuanya. Jika kau bertanya ada apa dengan diriku? Aku pun tak tahu ada apa dengan aku sebenarnya. Cukup saja kau memperhatikan tanpa melakukan hal-hal yang mampu menaikkan sumbu benciku. Pada akhirnya aku akan letih sendiri kemudian diam lalu beranjak pergi dan melupakan semuanya. Bisa saja aku benar-benar menghilang dari lingkaran ini dan berusaha menemukan rumah baru yang memiliki sikap keadilan yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya kita manusia akan benar-benar mengerti. Tidak ada individu yang benar-benar baik. Bahkan ketika kita bercermin. Manusia yang kau lihat di dalam cermin itu sebetulnya jahat. Namun terkadang berpura-pura baik adalah cara yang sopan untuk mendapatkan tempat di hati orang yang jahat lainnya. Kalau kau ingin melihat kebaikan. Tengoklah anak kecil. Mereka punya kejujuran. Tak pandai merangkai kata palsu. Mereka menyampaikan apa adanya. Tak ada yang tersembunyi. Barulah ketika beranjak dewasa mereka menjadi jahat. Itu karena orang-orang dewasa yang telah dilihatnya mempertontonkan kejahatan serupa. Kita jahat karena kita meniru kejahatan.
Membenci bukan berarti menyimpan dendam yang bisa terbawa kesaban waktu yang tak memiliki angka jelas batasnya. Aku hanya membenci bukan mendendam. Itu yang perlu kau garis bawahi. Aku benci orang-orang sekitarku, aku benci waktu yang sedang berjalan lambat, aku membenci keadaan yang tak selesai-selesai, dan aku membenci diriku sendiri. Tak usah risau. Aku hanya ada di dalam keadaan titik terendah untuk melakukan perubahan. Aku hanya butuh waktu "yang sebenarnya aku benci" untuk membenahi diri. Ada PR besar yang mesti ku-selesaikan. Tak perlu dicampuri karena aku lebih tahu apa yang diinginkan oleh diri ini. Cukuplah kau mengurusi apa yang membuatmu membenci suatu hal.
Terkadang aku juga heran. Ada-ada saja orang yang pandai menyinyir namun tak tahu akar masalah sebenarnya. Jago mengomentari perihal orang lain tapi tak pandai melihat ke dalam diri. Bukankah masalah diciptakan untuk semua orang bukan kebeberapa orang saja. Namun yang berbeda hanya waktu datangnya. Terkadang kita lapang sementara orang lain dalam kesusahan. Begitu pula sebaliknya. Mestinya kita bisa memahami bahwa kita hidup untuk bermasalah. Bukannya menjadi tukang gaduh di kolong rumah orang lain dan mengirim omelan kosong yang tak seorangpun mau peduli.
Entah dengan diksi apa aku mengakhiri tulisan ini. Karena aku tahu (kaupun tahu) kebencian itu akan meredah jika diledakkan dengan bahasa verbal atau tulisan. Bukan memendamnya sendiri dan menjadikannya bom waktu yang bisa meledak entah kapan bisa pada saat yang tepat atau salah.
Terima Kasih, i hate everybody.