"Lagi seneng muter lagu apa lu?" tanya Adin. Adin saat itu sedang bosan dengan semua lagu yang ada di playlist-nya. "Kunto Aji, judulnya rehat," balas Joki santai. Adin bingung seolah bertanya siapa Kunto Aji. Adin memang sangat asing dengan lagu musisi Indonesia. Wajar saja karena selera musik Adin cenderung "kebarat-baratan".
Adin-pun penasaran dan segera mencari lagu itu. "Ketemu yey!" teriak Adin, sambil memasang earphone miliknya. "Mau ikut dengerin?" lanjut Adin. "Hehe enggak, Din." Balas Joki. Lagu-pun diputar, Adin mulai menghadap langit dan menutup mata—seolah ingin menikmati lagu itu. Joki menduga bahwa Adin tidak akan menyukai lagu itu, dan benar saja tepat 1 menit sebelum lagu itu usai, Adin langsung menghentikannya dan mencopot earphone miliknya.
"Jelek banget lagunya," tutur Adin. "Itu karena kamu sedang bahagia, lagu itu ngga cocok buat orang bahagia." Joki menatap mata Adin dan berbicara pelan. "Itulah kenapa aku menolak tawaranmu tadi untuk mendengarkannya." Lanjut Joki sambil tersenyum. "Lu lagi bahagia nih maksudnya? Cieee," balas Adin sambil tertawa. "Iya, karena sedang bersamamu. Nanti setelah semua ini usai, mungkin tidak." Balas Joki, lirih. Adin sontak kaget dan memalingkan wajahnya dari tatapan Joki. Seolah kata-kata Joki membuat Adin tersipu malu.
"Din, gua suka sama lu." Joki melihat tajam ke arah Adin. "Tapi gua ga mau jadi pacar lu, ya emang aneh, intinya gua cuma mau bilang gua suka sama lu itu doang." Lanjut Joki. Adin diam seribu kata dan bingung dengan perkataan Joki. "Gua ngga lagi nembak lu, Din. Gua cuma mau jujur aja sama perasaan gua, masalah lu suka atau engga gua ngga peduli, yang jelas ini isi hati gua selama ini. Gua juga ngga tau kenapa bisa suka sama lu, beneran." Lanjut Joki, lagi.
"Bego banget lu, ngejokes tapi garingnya sampai ke tulang wkwk." Balas Adin, seolah menetralkan suasana. Padahal Adin sangat kebingungan saat itu. "Harus kursus jokes dulu sama gua keknya lu, Jok." Lanjut Adin. Joki lalu menghela nafas dan memalingkan pandangan ke arah langit, "Gua pernah baca buku yang isinya tentang dua manusia yang sering bersama, satu dari mereka ada yang menyimpan rasa. Lalu dia mencoba mengungkapkan, hasil akhirnya selalu ditolak dan persahabatan mereka hancur." Kata Joki. Adin semakin bingung, mata Adin mulai berkaca-kaca seolah air mata ingin menetes.
"Gua ga paham, Jok." Balas Adin pelan. "Hahahaha, santai aja lah Din. Kita ga bakal seperti manusia yang ada di buku itu. Cengeng banget lu gitu aja mau nangis." Kata Joki sambil tertawa. "Balik lagi dari awal, gua ga tau ini kenapa. Gua juga ga mau kalah sama ego gua, Din. Yang harus maksa lu juga harus punya rasa yang sama, enggak. Pada intinya gua cuma pingin lu tau aja gitu, itu aja." Lanjut Joki. Adin memalingkan wajah ke seberang, dengan harapan Joki tidak melihat air matanya, "Si.. siapa yang nangis sih." Balas Adin dengan nada tinggi.
Joki lalu berdiri dan memandang Adin yang sedang duduk. "Din.. Maaf, ya. Ayo kita pulang, gausah dipikirin. Gua aja santai gini. Besok kita main lagi." Kata Joki. "Main lagi? Seriusss" Tanya Adin. "Iyalah, gila. Kita kan temen." Jawab Joki sambil tertawa. Mendengar itu Adin lalu mengusap air matanya dan berdiri memeluk Joki dengan senang. "Jangan pergi." Kata Adin lirih. Rasa takut Adin-pun seolah hilang begitu saja, sore hampir redup ditelan malam. Joki dan Adin-pun pulang ke rumah masing-masing