"Lu kenapa sih Jok, kalo gua punya salah minta maaf huft."
Sore hari, pesan dari Adin setelah 2 minggu yang lalu Joki bertemu Burhan. "Haha, ok." Balas Joki. Keputusan Joki sudah bulat, dia pergi dan mencari sosok baru. Mungkin sedikit kebocahan, tapi untuk pemula, membatasi pertemuan adalah jalan yang baik. Joki mulai menghapus nomor Adin sehari setelah bertemu Burhan, ini juga tutorial yang diberikan oleh dia. "Tutorial melupakan bagi kaum pemula," kata Burhan. Meskipun nampak menyiksa Joki karena hasutan rindu, Joki lebih baik tersiksa daripada terlihat mengemis dihadapan Adin. "Mau-maunya gua jadi badut, hah enggak lagi," tutur Joki dalam hati.
Sementara itu, Adin.
Adin sangat terpukul dan tak enak hati kepada Joki. Hari itu, hari setelah Joki mengungkapkan perasaannya kepada Adin seolah menjadi awal dari masalahnya. "Kenapa sih Jok, lu malah suka sama gua." Sesak penuh kecewa Adin melaruti hari-harinya. Di temani kasur empuk kesayangannya, Adin menangis merindukan Joki. "Jok, lu bener. Rindu itu menyakitkan. Apalagi merindukan orang yang telah pergi dari hidup kita." Rindu Adin benar-benar tak terbendung. Masih penuh tanda tanya, kenapa Joki bisa berubah sejauh itu.
"Joki, sayang nggak harus pacaran-kan?"
"Nanti ketika gua denger nama lu udah biasa aja, ketika ngeliat lu biasa aja, gua janji bakal kembali seperti dulu. Ini semua demi kebaikan kita, Din." Joki duduk santai di pinggir danau, sembari mengingat memori bersama Adin.
Joki menjalani hari dengan biasanya. Sama sekali tidak istimewa, bahkan cenderung membosankan. Burhan menawarkan aplikasi kencan online untuk Joki dengan harapan kehidupan Joki nampak berwarna. Namun Joki selalu menolak dengan alasan sedang malas PDKT.
Hingga tibalah hari kelulusan tiba, Joki dan Adin resmi berpisah. Joki kuliah di Jakarta sedang Adin kuliah di Yogyakarta. Mereka sibuk, mereka punya lingkaran baru, mereka sudah saling melupakan. Joki akhirnya membuka hati dengan dengan gadis asal Bogor yang kebetulan memiliki hobi yang sama yaitu berpuisi. Namun hubungan itu hanya bertahan 2 tahun. Jauh berbeda dengan Adin. Setelah tamat kuliah, Adin lalu menikah dengan seorang prajurit TNI, Aryo. Teman SMA Joki dan Adin, dulu Aryo pernah ditolak mentah-mentah oleh Adin. Bahkan Adin selalu menghindar kala ada Aryo disekitarnya. "Iyuh jijik," kata Adin ,setiap kali dijodohkan dengan Aryo oleh teman-temannya. Namun, hidup siapa yang tau. Aryo kini bisa bersanding dengan Adin untuk selamanya. Joki datang sebagai sahabat, memberi ucapan selamat, dan ikut sesi foto. Semua nampak biasa saja. Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, mereka sudah menghapusnya rapi-rapi. Jadi, untuk apa sakit hati?
Sore hari, pesan dari Adin setelah 2 minggu yang lalu Joki bertemu Burhan. "Haha, ok." Balas Joki. Keputusan Joki sudah bulat, dia pergi dan mencari sosok baru. Mungkin sedikit kebocahan, tapi untuk pemula, membatasi pertemuan adalah jalan yang baik. Joki mulai menghapus nomor Adin sehari setelah bertemu Burhan, ini juga tutorial yang diberikan oleh dia. "Tutorial melupakan bagi kaum pemula," kata Burhan. Meskipun nampak menyiksa Joki karena hasutan rindu, Joki lebih baik tersiksa daripada terlihat mengemis dihadapan Adin. "Mau-maunya gua jadi badut, hah enggak lagi," tutur Joki dalam hati.
Sementara itu, Adin.
Adin sangat terpukul dan tak enak hati kepada Joki. Hari itu, hari setelah Joki mengungkapkan perasaannya kepada Adin seolah menjadi awal dari masalahnya. "Kenapa sih Jok, lu malah suka sama gua." Sesak penuh kecewa Adin melaruti hari-harinya. Di temani kasur empuk kesayangannya, Adin menangis merindukan Joki. "Jok, lu bener. Rindu itu menyakitkan. Apalagi merindukan orang yang telah pergi dari hidup kita." Rindu Adin benar-benar tak terbendung. Masih penuh tanda tanya, kenapa Joki bisa berubah sejauh itu.
"Joki, sayang nggak harus pacaran-kan?"
"Jika jodoh, Tuhan pasti mempertemukan kita, Jok."
Adin menatap langit, sembari mengingat memori bersama Joki.
"Nanti ketika gua denger nama lu udah biasa aja, ketika ngeliat lu biasa aja, gua janji bakal kembali seperti dulu. Ini semua demi kebaikan kita, Din." Joki duduk santai di pinggir danau, sembari mengingat memori bersama Adin.
Joki menjalani hari dengan biasanya. Sama sekali tidak istimewa, bahkan cenderung membosankan. Burhan menawarkan aplikasi kencan online untuk Joki dengan harapan kehidupan Joki nampak berwarna. Namun Joki selalu menolak dengan alasan sedang malas PDKT.
Hingga tibalah hari kelulusan tiba, Joki dan Adin resmi berpisah. Joki kuliah di Jakarta sedang Adin kuliah di Yogyakarta. Mereka sibuk, mereka punya lingkaran baru, mereka sudah saling melupakan. Joki akhirnya membuka hati dengan dengan gadis asal Bogor yang kebetulan memiliki hobi yang sama yaitu berpuisi. Namun hubungan itu hanya bertahan 2 tahun. Jauh berbeda dengan Adin. Setelah tamat kuliah, Adin lalu menikah dengan seorang prajurit TNI, Aryo. Teman SMA Joki dan Adin, dulu Aryo pernah ditolak mentah-mentah oleh Adin. Bahkan Adin selalu menghindar kala ada Aryo disekitarnya. "Iyuh jijik," kata Adin ,setiap kali dijodohkan dengan Aryo oleh teman-temannya. Namun, hidup siapa yang tau. Aryo kini bisa bersanding dengan Adin untuk selamanya. Joki datang sebagai sahabat, memberi ucapan selamat, dan ikut sesi foto. Semua nampak biasa saja. Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, mereka sudah menghapusnya rapi-rapi. Jadi, untuk apa sakit hati?