Saturday, July 31, 2021

Kisah Joki #2 (Hati dan Logika)



Sulit untuk jujur sama perasaan kita. Apalagi tau kalo cinta kita bertepuk sebelah tangan. Logika udah tau kalo ini bakal kejadian dan pingin menjauh. Tapi hati seolah memberontak dan menolak mundur dari keadaan. Padahal masih banyak wanita lain, itu kata logika. Tapi dia yang bikin hari-harimu berwarna, itu kata hati. Entah sampai kapan kita bergelut dengan diri kita sendiri. Mungkin selamanya.

Malam hari setelah hari yang cukup panjang, sebelum sampai rumah Joki dan Adin memutuskan untuk mampir ke Warkop Pak Sarno untuk sekedar menikmati indomie soto. Joki hari ini sedang tidak baik-baik saja. Tentu akibat kejadian sore tadi. Meskipun Adin tidak mengutarakan kata-kata penolakan, tapi bagi Joki responnya sudah cukup menjelaskan bahwa Joki sudah tertolak. Namun dihadapan Adin, Joki tetaplah Joki. Sahabat yang selalu ceria bagi Adin.

"Jok, lu kalo mau nglakuin sesuatu pilih pake hati apa logika?" tanya Adin. Seminggu ini Adin sedang kesal dengan sahabatnya karena tiba-tiba membencinya dengan alasan yang tidak masuk akal. "Hmm, logika aja deh hehe," balas Joki. "Lah kok logika?" balas Adin. "Hati itu bodoh, ia akan mengejar apapun yang dia inginkan tanpa berpikir risikonya, jika diibaratkan manusia, hati adalah contoh manusia berpikiran sumbu pendek. Dia ngga sadar kalo selama ini berlari menuju jurang patah hati." Balas Joki santai. "Lu kenapa nanya begitu?" lanjut Joki. Adin lalu bercerita panjang tentang masalahnya dengan sahabatnya, kejadian yang akhir-akhir ini membuat pusing Adin karena bingung harus bagaimana lagi. Masalah kecil yang dibesar-besarkan, padahal bicara baik-baik juga bisa.


"Kalo dipikir pake logika, lu ngga salah si Din. Orang dia yang minta tolong. Keputusan terakhirnya kan di lu. Bisa atau engga ya itu hak lu." Respon Joki. Adin hanya bisa tertunduk lesu sambil memasang muka sebal.

"Tapi kalo dipikir pake hati, lebih baik lu minta ma..."
Belum selesai Joki bicara Adin langsung mengangkat kepalanya dan memotong perkataan Joki.

"Hah? Minta maaf? Orang gua ngga salah kok huh," protes Adin.

"Dia sahabat lu dari SD-kan? Mungkin waktu itu dia lagi stress berat. Daripada punya musuh, lebih baik berani minta maaf. Minta maaf itu keren, kok. Hanya pecundang di dunia ini yang gengsi untuk minta maaf. Percaya aja deh," balas Joki. "Melakukan hal dengan logika memang bisa membuat kita terasa bebas. Kita bodo amat, cari yang lain, yaudahan. Itu bisa. Namun, pada akhirnya hal itu ngga baik. Kita bakal kehilangan seseorang karena kita mengutamakan ego kita. Kita bakal merindukan orang yang kita tinggalkan." Adin hanya bisa diam seribu kata atas perkataan Joki. Tatapan Adin ke mata Joki seolah menjadi bukti bahwa Adin memahami setiap perkataan yang diutarakan Joki. "Din, lu tau rindu?" lanjut Joki. "Yeee Joki-Joki, ya taulah," balas Adin sambil tertawa. "Rindu itu menyebalkan, apalagi kita merindukan orang yang sengaja kita tinggalkan, menyakitkan." balas Joki.

"Pokoknya besok lu harus minta maaf, dan coba deh ngalah sebentar. Dia maunya apa, kalo lu ngga bisa bantu sendiri. Tenang bos, ada gua hehe." Sambung Joki.

Adin setuju dengan pendapat Joki, tidak ada kata lain selain terimakasih pada malam itu. Joki dan Adin akhirnya pulang setelah menghabiskan indomie soto yang dihidangkan Pak Sarno. "Hati-hati dijalan, ya. Semoga langgeng deh kalian." Sapa Pak Sarno. "Hahaha iya Pak, makasih. Tapi kita cuma temenan doang kok Pak." Balas Adin sembari memakai helm. Mendengar jawaban Adin, Pak Sarno tak kuasa menahan malu dan bingung dibuatnya. "Ohh! Maaf-maaf. Langgeng pertemanannya maksudnya hahaha," balas lagi Pak Sarno. "Nahh ini, Aminnnn Pak Sarno pasti deh." Adin membalas doa baik Pak Sarno dengan senyuman lebar. Mata Pak Sarno lantas menatap tajam ke arah Joki yang sedari tadi diam saja. "Mas-nya kok ga ikut bilang Aminn?" 
Share:

0 comments:

Post a Comment