"Rumah itu sudah lama mati." Katamu, baik-baik saja. Sembari berdoa kelak rumah itu hidup kembali dengan penghuni baru. "Baunya busuk dan berantakan, aku sudah meninggalkannya tanpa rasa sesal," lanjutmu.
Terlalu liar aku memikirkan rumah mana lagi yang akan kau singgahi, jauh sebelum itu. Ku usahakan rumah yang kau singgahi nanti lebih baik dari sebelumnya. Meski rumah itu tergolong sederhana, ku jamin pondasinya kuat, ruangannya bersih, banyak buku, bunga—dan barangkali kau ingin menatap rasi bintang, tak perlu risau sebab tersedia teleskop kecil di sana.
Ku pastikan aroma rumah lamamu benar-benar sirna, hanyut dan mati tergantikan wangi kopi, atau paling tidak kau bisa mencium harum bunga melati di pagi hari.
Namun, dari semua yang ku janjikan, kau hanya menatapku hampa. Seolah rumah yang kau maksud bukan sekadar bangunan dengan jendela dan pintu, bukan kumpulan buku dan bunga-bunga bermekaran—melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, barangkali lebih menyakitkan.
Rasanya baru kemarin kau meludahi setiap kenangan yang melekat pada sudut ruang rumah itu.
"Busuk dan berantakan."
"Aku sudah meninggalkannya tanpa rasa sesal."
Nyatanya, kau masih sama saja. Kembali dan memunguti pecahan demi pecahan gelas itu, kau satukan kembali seolah tak ada gelas lain di seberang sana. Kurang dari seratus hari. Konsistensimu berubah menjadi satu gelas ludah yang kau minum kembali.
"Rumah lamaku masih menjadi seonggok puing yang merana, dan kini aku datang dengan tekad untuk membangunnya kembali dari awal."
Dengan level kesadaran tingkat tinggi, kau menamparku dengan realitasmu. Kau kembali ke rumah lama. Rumah yang kau sebut sudah mati, bau busuk dan berantakan itu kau bersihkan dan poles dengan warna yang baru. Dinding yang kusam kini cerah, lantai yang berdebu kini bersih, teras rumah yang padam kini bercahaya.
"Lambat laun, manusia berubah. Setelah apa yang aku alami, singgah di rumah baru bukanlah hal yang mudah. Rumah lama itu, terus berbisik dan menghantuiku," pungkasmu.
"Yy.. Ya, kau benar," balasku.
Semoga rumah lamamu, yang kini kau tempati lagi, benar-benar bisa hidup kembali. Semoga kau temukan damai di sana, menemukan apa yang selama ini kau cari—dan semoga kali ini, rumah itu tak lagi membuatmu ingin pergi.
Aku tahu satu hal: terkadang, rumah sejati bukanlah yang dibangun dengan pondasi kuat dan atap terbuka, melainkan yang hatimu rindukan untuk kembali, apa pun baunya, dan seberapa pun berantakannya.
Aku hargai keputusanmu dan mendoakan yang terbaik untukmu.
0 comments:
Post a Comment