Monday, November 19, 2018

Tentangmu, Dunia Sosial Mediaku

 Gambar mungkin berisi: teks





Sosial media hanyalah hiburan. Tempat berbagi kebahagiaan serta informasi terkini lewat gadget. Semua bisa terjadi disini. Kebahagiaan yang penuh tanda tanya, marah, sedih yang masih patut di pikir kembali. Cantik nan ratu, gagah bak pangeran berwibawa, semua belum tentu terjadi nyata. Itulah sosial media. Kejam tapi menyenangkan, tempat paling ampuh menghilangkan kebosanan.

Sosial media, tempat berekspresi bagi semua orang.

Kamu adalah orang pendiam. Semua orang menganggapmu seperti itu. Asing, sayu, datar. Kamu jarang tertawa, kamu bahkan sering di hujat. Hingga, semua itu berujung kekesalan. Kamu marah, jemari tanganmu mulai mengetuk huruf pada papan ketik. Tangismu seirama dengan dendam. Berbagai kata kotor, hinaan, kata yang tak seharusnya kamu utarakan terjadi menjadi dosa. Status terkirim, hatimu terasa lega. Hatimu sedikit tenang, tapi tidak dengan air matamu. Kamu berharap teman-temanmu membacanya, dan, selamat kamu berhasil. Mereka akan kaget. Ada yang merasa bersalah, ada yang tertawa terbahak-bahak. Lihatlah, kamu bahkan jadi bahan olokan lagi. Lalu kenapa? Lalu apa penyelesaian akhirnya? Ubahlah dirimu. Ikutilah perkembangan zaman asal sesuai norma dan ideologi. Kamu hanya berbeda. Saat temanmu tertawa, ikutlah tertawa. Mulailah berekspresi, jangan kaku bagai seonggok kayu. Menyindir seseorang lewat fasilitas sosial media adalah tindakan yang fatal. Cupu, hina, dan rendah. Kamu bisa datangi dia dan mintalah penjelasan. Bicarakan baik-baik jangan sampai terjadi pertikaian.

Sosial media, tempat patah hati dimensi kedua.

Kamu menyukai seseorang. Kabar tentangnya tak pernah kamu lewatkan. Selalu jadi like pertama karena kamu ingin menjadi pilihan utamanya. Atau, rajin mengirim Direct Message sebagai tanda rindu serindunya. Suatu saat, kamu di mintai tolong olehnya. Kamu dengan senang hati membantunya, dan hari selanjutnya, kamu minta tolong padanya dan entah kenapa pesanmu hanya di baca saja. Sadarlah, username-mu bukan kategori penting. Haha. Semudah username-mu di eja, semudah username-mu dibaca, jika hati enggan, tetaplah sulit terasa. Lagi, suatu saat, kamu di mintai tolong promosi akun sosial medianya. Entah lewat status, instastory, dan lainnya. Kamu bukan artis, kamu bukan sosok Awkarin yang instastory-nya penuh titik-titik. Penting, itu sama saja mengenalkan dia kepada teman-teman kamu. Mudah, seperti biasa kamu bersedia. Apakah kamu juga akan minta promosi juga? Jangan. Karena, seperti biasa. Kamu akan di tolak dengan berbagai alasan. Tentang semua ini. Percayalah, sesungguhnya dia malu berkenalan denganmu. Malu karena mungkin kamu di benci teman-temannya. Hingga, dia ikut menjadi pembenci. Tapi karena kamu baik, dia tetap segan membalas chatmu, "tanpa di ketahui teman-temannya." Kamu terkenal di suatu tempat, mempunyai like dan follower yang banyak di sosial mediamu, sadar atau tidak, ketenaranmu akan dimanfaatkan. Saat dia menjatuhkanmu, dia akan menceritakan semuanya pada teman-temannya. Saat dia memberikan 1% kebaikan kepadamu, dia akan berusaha menyembunyikannya. Dia tidak butuh history chatmu, dia hanya butuh kebaikanmu. Dia sering menganggapmu bodoh karena sering dia manfaatkan.

Percaya saja, sebenarnya kamu tau semuanya-kan? Hanya saja, kamu enggan membuat masalah berkepanjangan.

Percaya saja, sebenarnya kamu takut kehilangan dia-kan? Dia sering menjatuhkanmu, menghinamu serendah mungkin, tapi kamu tak sanggup membencinya. Kamu bersikeras bahwa kamu tetap mencintainya. Bermimpi memilikinya suatu masa. Untuk apa? Cinta memang bodoh, bukan?

Sosial media, tempat cemburu perantara.

Kamu berhubungan baik dengan dia. Segalanya, tampak baik-baik saja. Instastory-mu tak pernah dia lewatkan, like dan Direct Message yang tak pernah ketinggalan. Saling menyapa saat bertemu, saling memuji perihal makhluk ciptaan Tuhan. Rayuanmu dia terima, hadiahmu dia terima. Segala pemberianmu dia respon baik-baik. Menjaga pemberianmu, membalas segala rayuanmu. Semakin bertambahnya hari, kamu mulai sedikit terbawa suasana. Kamu mulai menyukainya. Kamu, percaya dia akan menerimamu. Kamu mengajak foto bareng, bergaya yang sama dengan warna baju yang sama. Sungguh bahagianya kamu, dia langsung meminta hasil foto tadi. Kamu, langsung menguploadnya di Instagram, sebagai instastory dan unggahan. Captionmu sangat agresif, kata-katamu membawa nama cinta seolah punya rasa yang sama. Belum sampai disini, bahagiamu bertambah. Sama denganmu, dia langsung menguploadnya sebagai instastory dan unggahan. Namun, bedanya dengan kamu, caption yang dia tuliskan, kamu hanya dianggap sebagai teman. Kamu tak boleh bersedih, kamu harus terima. Ini bukan penolakan, ini bukan kegagalan. Hanya saja, kamu harus sadar. Meskipun dia sering melibatkanmu dalam setiap instastory dan unggahannya, belum tentu dia menyukaimu. Kadang, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam membahagiakan orang lain. Maksud dia, mengunggah ya mengunggah foto saja. Kamu, hanya baperan. Dia tak bermaksud membohongimu, kamulah yang harusnya sadar diri.

Sosial media, atas segalanya terimakasih sebanyak-banyaknya.

Jadi.

Manakah kamu? Di manakah kamu? Manfaatkanlah sosial media sebaik mungkin. Jangan jadikan sosial media sebagai kebencian. Berhentilah merendahkan, dan berhentilah menghujat. Jadilah pengguna sosial media yang bijak.
Share:

Saturday, October 20, 2018

DESTROY MYSELF



 Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.



  
      Kau imajinasi, logika yang setiap waktu berkediaman di pikiranku. Kau datang sekejap membawa perubahan, kau pergi begitu saja membawa kehancuran. Layak dan lebih pantas. Aku kau lupa begitu saja. Aku tau kau suka kesibukan, aku tau kau suka kegiatan, aku tau kau menganggapku hanya teman.

       Tepuk tangan meriah, apresiasi yang tak ada henti-hentinya kau berikan pada orang lain. Ucapan, mimik muka,  kalimat yang kau utarakan itu tak pernah di lupa. Aku cemburu. Karena. Itu. Bukan aku. Aku selalu gagal di depanmu. Melakukan semaksimal mungkin tapi tak ada apa-apanya. Aku selalu kalah dan tercelakai berkali-kali. Semakin bertambahnya usia. Aku mulai menjadi sosok pembenci. Merasa paling benar dan egois. Menghina dengan dalih mengkritisi, merendahkan dengan dalih mengingatkan. Namun, pada satu titik. I hate myself too. Kecewa yang berlebihan, dendam, marah, murung, kritik pedas. Aku diam saja. Aku lebih suka di apresiasi dari pada mengapresiasi, aku lebih suka di sukai dari pada menyukai. Tanpa disadari, aku mulai kehilangan banyak teman. Mereka pergi dan aku tak peduli. Entah. Kenapa. Aku. Tak. Peduli. Asal kau tau. Itulah kenapa aku benci diriku sendiri. Aku hanya sampah, aku hanya perusak, aku hanya menganggumu saja.

       Selalu mengecewakan, selalu rendah harga diriku. Aku minta maaf atas ketidak sopananku dalam berbicara. Blak-blakan, kotor, menyinggung. Itulah aku. Jangan paksa aku berubah,  jangan paksa aku menjadi apa yang kau mau. Aku bukanlah orang baik. Tapi aku selalu berusaha menjadi orang baik.  Banyak hal yang mendasari atas pernyataan yang aku utarakan. Baik tak selamanya baik. Artinya, pada setiap kebaikan belum tentu di raih dengan proses yang baik pula. Aku bukanlah orang jahat, karena aku benci kejahatan. Membunuh dan mencuri bukan haknya, melukai yang bukan kewajibannya. Itulah.

         Aku tak pernah lupa meminta maaf jika aku merasa bersalah padamu. Sedikitpun itu, aku hanya tak ingin menjadi sosok sampah di pandangmu. Sosok yang menjijikan dan mengecewakan. Aku takut kau membenciku.

         Tentang malam dan kerinduan hanyalah fana. Ketidak kekalan yang semestinya aku manfaatkan baik-baik malah aku buang. Aku takut menghubungimu. Mengganggumu yang sedang fokus belajar. Kau terbiasa dengan nilai A sedangkan aku jarang. Nilai C kau tangisi sementara aku bodo amat. Semangat belajarmu patut di acungi jempol. Semoga kau sukses dan bisa membahagiakan semua orang. I know you can do it.

      Jabat tangan perihal tanda kebaikan. Sentuhan berbeda yang aku rasakan. Penuh rasa dan harapan. Aku lupa ini hanya panggung drama. Cerita yang di buat-buat untuk menghibur banyak orang. Tak ada sensasi. Tak ada yang kaget. Kebaikanmu kau berikan ke semua orang. Rasamu kau bagi rata sehingga responmu sama. Senyum canda tawa ceria bahagia yang sama. Aku kira spesial, namun ternyata akulah yang salah terima.


       Menjauh dan pergi, menaruh maaf yang terdalam untukmu. Hei, jangan pernah lelah ingatkan aku, ya. Eh, tidak! tidak! maaf. Maksudnya, jangan pedulikan aku lagi, ya. Aku cuma pengganggumu saja kan? Jangan sampai, waktumu terbuang sia-sia hanya karena aku. Sungguh bahagia mengenalmu. Cantik dan lucu, pintar dan kuat.  Terimakasih atas pembelajarannya. Setidaknya kau bukan orang yang aku benci.



                                                                                                            -fp/20102018/2153/222141
Share: