
Waktu memang begitu
kejam. Saat aku mulai mencari sosok yang
baru, tapi aku tak pernah bisa mendapatkannya. Bukan mantan, tapi, aku yang tak
bisa memilikinya. Aku ingin melupakan yang sudah-sudah, tapi hati yang tak mau
singgah. Akan aku sebut namanya Ihkarin, nama yang begitu indah bukan. Berbagai
cara aku lakukan, agar aku bisa melupakannya.
Suatu hari,
seketika ada bunyi BBM masuk di ponselku. Aku kira itu pesan siaran, akan tetapi
bukan, ternyata seseorang wanita, entah siapa namanya, entah dia dari mana, dia
berani menghubungiku. Dia tak segan memperkenalkan siapa namanya, sedangkan aku
masih malu untuk memperkenalkan diri. “Hai, namaku Ria,” tuturnya. Aku tak tau
apa yang di benak Ria, Ria sering menghubungiku lewat BBM. “Apa Ria menyukaiku?
Ah tak mungkin,” tuturku dalam hati. Rasanya dekat, entah kenapa aku mulai
nyaman. Mungkin, ini bisa menjadi jalan keluar untukku melupakan Ihkarin. Aku
mulai menyusun strategi, jangan sampai rencana ini gagal.
Pada akhirnya…
“Ria, kamu mau ga jadi
pacarku?,” tuturku.
“Ah, yang serius dong
Pras, gausah bercanda kek gitu lah, jelek tau,” balasnya.
“Loh, siapa yang
bercanda, aku serius, mau ga?,” balasku.
“Iiiih, iya deh aku
mau,” balasnya.
Hari pertama, aku
dan Ria sangat dekat. Karena aku dan Ria pacaran, kami jadi sering bertemu. Ah,
aku rasa Ria adalah wanita yang baik hati. Aku jadi tak tega menyakitinya, aku
mulai berpikir kedua kali. Aku yang sudah memiliki Ria, tapi aku mencintai
Ihkarin yang bukan siapa-siapa ku. Aku tak enak hati, aku sudah membohongi Ria.
Tiga bulan lebih hubunganku dengan Ria, akhirnya aku memutuskan untuk
mengakhiri hubunganku dengan Ria. Aku jujur kepada Ria. Aku memang salah, aku
yang jahat, aku yang kebocahan, aku yang bodoh. “Aku mohon, Janganlah menangis,
tetap kuat dan tenanglah, suatu saat aku tak akan mengulanginya lagi. Masih
banyak laki-laki lain di luar sana, pilihlah sesukamu, asal jangan seperti aku,”
tenangku. Ria mencintaiku dengan tulus, tapi malah aku sia-siakan. “Aku minta maaf jika aku tak mencintaimu
sepenuh hati. Maaf, jika aku cuek, jarang balas chat, aku hanya minta tolong
bantulah aku untuk melupakannya, tapi kamu tak bisa. Aku minta maaf,” tutupku.
Aku menyakiti
seseorang, aku gagal melupakan Ihkarin.
Beberapa hari
setelah hubunganku dengan Ria bubar, aku masih sibuk mencari cara untuk
melupakan Ihkarin. Aku rasa dengan menjadikan Ihkarin sebagai teman biasa, aku
bisa melupakannya. Tapi aku tak berani. Aku tak sejantan dulu saat pertama kali
menghubungi Ihkarin lewat SMS. Akan tetapi, akhirnya aku
berani menghubunginya duluan, ah mungkin sulit dipercaya, temanku lah yang
memberi pesan kepada Ihkarin, ponselku di bajak. Ihkarin membalas, dan aku tak
mau tinggal diam, tapi aku malah terbawa suasana. Aku lupa tujuanku sendiri. Aku
tak bisa menjadikan Ihkarin sebagai teman biasa. Bagaimana bisa, dia terlalu
sering memberikan perhatian lebih dan aku yang sering terbawa suasana. Aku bukan
bagian dari hidupnya. Dia mencintai seseorang yang lebih dariku. Aku tak bisa
melarangnya, toh, kebahagiaannya kebahagiaanku juga.
Ya, setidaknya ada
kenangan pahit yang di berikan Ihkarin kepadaku untuk membuatku bisa tumbuh
lebih dewasa. Sekarang, aku juga jarang mendengar kabar Ihkarin. Aku sudah di
blokir permanen di Facebook dan Instagram. Aku terima itu, bahkan
aku berterimakasih, mungkin dengan di blokirnya akun media sosial yang aku
miliki, aku bisa lebih mudah melupakannya.
“Kau
tak usah mengeluh saat dia memberikanmu harapan palsu, tetap kuat, belajar, dan
buktikan dimasa yang akan datang”