Monday, May 15, 2017

SULITNYA MELUPAKAN

Foto Pras.



                Waktu memang begitu kejam. Saat aku mulai  mencari sosok yang baru, tapi aku tak pernah bisa mendapatkannya. Bukan mantan, tapi, aku yang tak bisa memilikinya. Aku ingin melupakan yang sudah-sudah, tapi hati yang tak mau singgah. Akan aku sebut namanya Ihkarin, nama yang begitu indah bukan. Berbagai cara aku lakukan, agar aku bisa melupakannya.

                Suatu hari, seketika ada bunyi BBM masuk di ponselku. Aku kira itu pesan siaran, akan tetapi bukan, ternyata seseorang wanita, entah siapa namanya, entah dia dari mana, dia berani menghubungiku. Dia tak segan memperkenalkan siapa namanya, sedangkan aku masih malu untuk memperkenalkan diri. “Hai, namaku Ria,” tuturnya. Aku tak tau apa yang di benak Ria, Ria sering menghubungiku lewat BBM. “Apa Ria menyukaiku? Ah tak mungkin,” tuturku dalam hati. Rasanya dekat, entah kenapa aku mulai nyaman. Mungkin, ini bisa menjadi jalan keluar untukku melupakan Ihkarin. Aku mulai menyusun strategi, jangan sampai rencana ini gagal.

Pada akhirnya…

“Ria, kamu mau ga jadi pacarku?,” tuturku.
“Ah, yang serius dong Pras, gausah bercanda kek gitu lah, jelek tau,” balasnya.
“Loh, siapa yang bercanda, aku serius, mau ga?,” balasku.
“Iiiih, iya deh aku mau,” balasnya.

                Hari pertama, aku dan Ria sangat dekat. Karena aku dan Ria pacaran, kami jadi sering bertemu. Ah, aku rasa Ria adalah wanita yang baik hati. Aku jadi tak tega menyakitinya, aku mulai berpikir kedua kali. Aku yang sudah memiliki Ria, tapi aku mencintai Ihkarin yang bukan siapa-siapa ku. Aku tak enak hati, aku sudah membohongi Ria. Tiga bulan lebih hubunganku dengan Ria, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Ria. Aku jujur kepada Ria. Aku memang salah, aku yang jahat, aku yang kebocahan, aku yang bodoh. “Aku mohon, Janganlah menangis, tetap kuat dan tenanglah, suatu saat aku tak akan mengulanginya lagi. Masih banyak laki-laki lain di luar sana, pilihlah sesukamu, asal jangan seperti aku,” tenangku. Ria mencintaiku dengan tulus, tapi malah aku sia-siakan. “Aku minta maaf jika aku tak mencintaimu sepenuh hati. Maaf, jika aku cuek, jarang balas chat, aku hanya minta tolong bantulah aku untuk melupakannya, tapi kamu tak bisa. Aku minta maaf,” tutupku.


Aku menyakiti seseorang, aku gagal melupakan Ihkarin.


                Beberapa hari setelah hubunganku dengan Ria bubar, aku masih sibuk mencari cara untuk melupakan Ihkarin. Aku rasa dengan menjadikan Ihkarin sebagai teman biasa, aku bisa melupakannya. Tapi aku tak berani. Aku tak sejantan dulu saat pertama kali menghubungi Ihkarin lewat SMS. Akan tetapi, akhirnya aku berani menghubunginya duluan, ah mungkin sulit dipercaya, temanku lah yang memberi pesan kepada Ihkarin, ponselku di bajak. Ihkarin membalas, dan aku tak mau tinggal diam, tapi aku malah terbawa suasana. Aku lupa tujuanku sendiri. Aku tak bisa menjadikan Ihkarin sebagai teman biasa. Bagaimana bisa, dia terlalu sering memberikan perhatian lebih dan aku yang sering terbawa suasana. Aku bukan bagian dari hidupnya. Dia mencintai seseorang yang lebih dariku. Aku tak bisa melarangnya, toh, kebahagiaannya kebahagiaanku juga.

                Ya, setidaknya ada kenangan pahit yang di berikan Ihkarin kepadaku untuk membuatku bisa tumbuh lebih dewasa. Sekarang, aku juga jarang mendengar kabar Ihkarin. Aku sudah di blokir permanen di Facebook dan Instagram. Aku terima itu, bahkan aku berterimakasih, mungkin dengan di blokirnya akun media sosial yang aku miliki, aku bisa lebih mudah melupakannya.




“Kau tak usah mengeluh saat dia memberikanmu harapan palsu, tetap kuat, belajar, dan buktikan dimasa yang akan datang”
Share:

Tuesday, April 18, 2017

UNTUK KAMU YANG PERNAH ADA DI HATI







                Cerita ini berawal saat aku mulai remaja, beranjak dewasa, mulai bisa berpikir lebih dewasa. Semuanya terasa cepat berlalu tanpa aku sadari, hari-hari yang penuh dengan kesepian dan kesendirian terus ada menemani hidupku.

                Hari-hariku sepi adanya. Aku merenung, membayangkan bagaimana kehidupan di luar sana. Pasti akan sangat menyenangkan jika ada dering ponsel yang masuk. Ku lihat, ternyata seseorang yang amat berharga datang tanpa di undang.  Dengan kalimat sederhana, “hai, lagi apa?” yang bisa mengguncangkan hati nurani, sungguh, aku pasti tersanjung akan hal itu. Berbincang-bincang sampai tengah malam, sampai ibu-ku memarahi ku karena aku belum tidur-tidur. Sayangnya, hanya sebatas imajinasi, semua hanya sebatas mimpi, mimpi yang tak bisa terjadi.

                Rasa sepi itu mulai memudar, memudar dan makin lama menghilang, saat aku menemukan bagian dari hidupku, yang akan bersama menemani hariku. Saat aku duduk  di samping gedung, aku melihat seseorang wanita turun dari mobil dengan paras yang indah, wajah yang cantik, mata yang bersinar, bagaikan matahari yang memancarkan sinarnya.

                Aku ingin sekali menghampirinya dan mengucapkan padanya, “Hai, aku Pras,” tapi apa daya rasa malu menghalangi semua itu. Aku terus memikirkannya, sampai semua ini terasa menghipnotis diriku. Aku seperti tidak punya ingatan tentang apapun, karena aku hanya mengingat tentang dirinya. Adzan, adzan mengembalikan semuanya. Aku bangun dari tempat peristirahatan ku dan mulai membasuh muka ku dengan dengan air wudlu. Aku mulai bersujud memohon ampunan, dan mohon petunjuk atas apa yang aku alami.

                Hari demi hari telah ku lewati. Aku mencoba berusaha mendapatkan nomor ponsel miliknya lewat teman dekatnya. Aku malu, apakah aku adalah laki-laki, yang hanya berani membuka debut perkenalan dengan ponsel? Abaikan saja bila perlu. Aku memberanikan diri memperkenalkan diriku padanya, “Hai, namaku Pras,” dengan lamanya aku menunggu balas pesan, akhirnya dia-pun memberiku balasan, “Hai juga, aku Khalifa,” semua terasa sempurna saat di akhir debut percakapan, ada emotikon titik dua kurung tutup yang menunjukan manisnya senyuman, manisnya kehidupan, terimakasih. Saling bertanya tentang kepribadian masing-masing. Aku dan dia sangat jauh dalam segi ekonomi,  tetapi itu tak pernah aku pedulikan karena aku tau itu tak penting. Hanya saja, aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah  dia akan menerima aku apa adanya, apa dia akan pergi meninggalkan, karena aku tak pantas diberi harapan.

                Aku terus melangkah, aku terus melangkah maju untuk mendekatinya. Berbagai perhatian dia berikan, senyuman dia berikan, betapa besar harapan ku untuk bisa memilikinya. Aku mulai berbenah diri, jangan sampai dia aku sakiti. Sempat berpikir, boleh kah, boleh kah aku meminta senyumannya untuk mencampurkannya dengan kopi tanpa gula? Pasti tak akan pahit rasanya. Rasa pahit akan kalah dengan senyumannya.  Seperti itulah aku membandingkannya, senyumnya bisa merubah segalanya.

 Aku minta maaf jika joke yang aku lontarkan tak pernah lucu, maaf tidak bisa membuat bahagia.


 Aku minta maaf jika aku membosankan, aku memang laki-laki yang payah.

Aku

Minta

Maaf…


                Aku masih belum berani mengungkapkannya. Bagaimana caranya, aku yang sosok pendiam dan pemalu ada di kehidupan percintaan? Aku takut akan penolakan.

                Haripun berganti, aku ingin memberanikan diri. Kata-kata yang aku ciptakan berminggu-minggu, akan aku kirimkan sebagai ucapan perasaan.






                Kata demi kata aku bawakan, kalimat demi kalimat aku tuangkan, paragraf demi paragraf mulai aku susun, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya.

                Tapi, seketika muncul sorak-sorak gembira di dinding media sosialnya, aku tak tau. Saat aku sedang sibuk-sibuknya merangkai kata, untuk mengungkapkan perasaan yang ada, dia malah sudah menjalin hubungan dengan laki-laki yang lain. Sungguh, kejamnya percintaan. Perasaan yang aku tanam-tanam bertahun-tahun, semuanya hancur gara-gara seseorang yang tidak aku kenal. Apa artinya perhatian dan senyuman yang diberikan, jika nantinya yang diberikan hanya sesakitan? Ah, aku tau. Mungkin dia tidak mau menyakitiku. Terimakasih jika begitu.

Beberapa minggu kemudian,

                Saat sekumpulan orang bebarengan mengumbar kemesraan di sosial media, aku hanya diam tanpa bicara. Aku berharap tak ada lagi kisah, yang nantinya akan meresah. Aku diam di kediaman sembari membaca. Aku takut akan keburukan waktu itu. Harapan palsu, pembodohan, dan kebohongan. Semua itu selalu tergambar di logika.

                Waktu itu tak sengaja berpapasan di jalan, saat dia dalam kesendirian, saat dia tidak bersama pasangan. Dia aku panggil, tapi entah kenapa dia mengabaikan. Padahal, aku tepat didepannya.  Aku heran kenapa dia hanya memasang mimik muka biasa, seolah aku belum pernah berkenalan dengannya?

But wait,

Tapi kenapa?

                Kenapa,  dia memanggiku saat dia sedang bersama pacarnya? Kenapa? Apa maksud dari semua itu? Seburuk itukah perlakuannya? Sejahat itukah perlakuannya? Tapi yang harus di ketahui, aku bukan seperti dia, aku tetap tegar membalas sapaan, senyum bahagia, seperti orang gila saja rasanya.  

                Bodohnya aku, aku masih sering membaca percakapan dahulu. Sambil mengingat-ingat lucunya perkenalanku dengan dia, bahagia bersamanya, dan malunya aku saat bertemu dengannya. Hanya lewat teman dekatnya, aku bisa dapat nomor ponselnya, tapi aku tak bisa menjadi miliknya. Kini percakapan sampai tengah malam telah tiada. Aku bisa tidur jam 22.00 setiap harinya. Aku tidur nyenyak setiap harinya. Alhamdulillah, Ibu ku juga tak pernah memarahi ku lagi gara-gara masalah tidur. Sekarang, aku dengan dia sudah mempunyai jalan yang berbeda. Mimpi berbeda, kemauan yang juga berbeda.

Terakhir,

                 Pesan untuk dia;  belajarlah bersikap dewasa, ya. Jangan kebocahan seperti dulu lagi. Kini, kau sudah besar. Dewasa, dan lebih berhati-hati dalam melakukan hal. Tetaplah menjadi wanita feminin. Baik dan murah senyum pada semua orang. Tetap jaga kondisi tubuh, sehat-sehatlah selalu, rajin belajar, teruslah bahagia dengan pacarmu itu. Semoga kelak, bisa langgeng sampai tua nanti. Tetaplah rajin beribadah, jangan lupa sholat, dan jangan pernah lupa untuk makan.  Makanlah sesukamu lupakan gengsi. Jangan takut gendut, percayalah kamu itu tidak gendut. Mereka salah jika menyebutmu gendut. Atas segalanya, terimakasih ya. Sampai jumpa di lain waktu, semoga kita bisa bertemu.


Itu saja pesan dariku.





“Karena denganmu, jatuh cinta adalah keikhlasan terpenjara walau kepadaku yang kau sajikan hanya duka lara” (Distilasi Alkena, halaman : 100)



Share:

Wednesday, March 15, 2017

MEREKA BENAR AKU TAK PANTAS MENGENALMU

               
               



              Hari Minggu yang cerah, pagi-pagi saya biasakan untuk lari dari kenyataan, eh, lari pagi maksudnya. Saya memilih untuk pergi ke alun-alun kota. Saya sendirian, karena teman sekampung saya pembohong, di hubungi ga direspon-respon, disamperin eh ternyata tidur. Saya lari dengan gagahnya, terlihat ada segerombolan cewek lagi lari, saya berhenti sejenak, karena mamandangnya terasa lebih enak. Lupakan, saya lari memutari alun-alun tujuh kali, lelah. Saya istirahat sembari bermain HP, tiba-tiba saya dibuat kaget, muncul si kampret yang tidak salah lagi adalah teman sekolah saya, lari bersama cewek cantik, tersenyum begitu saja, menarik hati agar bisa mengenalinya. Saya kira itu pacarnya, tapi ternyata bukan. Karena saya penasaran, saya panggil teman saya yang tadi “Eh Yonglek (nama samaran) beruntung banget ya, lu bisa depatin dia, padahal, muka lu sama gua kan hampir sama.” Yonglek mukanya emang jelek, tapi, jangan tanya pengalaman relationshipnya, jujur ya, mantan dan pacarnya cantik semua. Wajar juga sih, Yonglek terlahir dari orang kaya, setiap hari dikasih uang jajan 50.000, dirumahnya ada banyak motor mahal, siapa yang ga mau sama dia coba? Cewekkan, maunya sama yang banyak duit, haha. “Bukan Pras, ini tetangga gua,” balas Yonglek. Perasaan saya langsung senang dan bahagia.  Besoknya, di sekolah saya samperin si Yonglek, “Eh kutil anoa, gua minta nomornya dia dong,” minta saya, “Dia siapa Cuk?,” balasnya. Aduh saya lupa tanya siapa namanya kemarin, karena lupa? gimana lagi, saya jelasin ke Yonglek dengan detail, saya sebenarnya masih ragu-ragu karena biasanya Yonglek cuma iya-iya doang. Tapi ternyata tidak, setelah Yonglek saya jelaskan, ternyata nama ceweknya adalah Aduhkarin (nama samaran). Pulang sekolah, Yonglek akhirnya memberikan nomor HP Aduhkarin kepada saya (Sekolah tidak boleh bawa HP). Seperti biasa, saya SMS. Nunggu, nunggu, nunggu, nunggu, nunggu, nunggu, dan akhirnya dibales juga. Dia selalu membalas pesan saya, kadang kami selalu SMSan sampai larut malam, sering ngucapin selamat makan, selamat tidur, selamat malam, dan masih banyak lagi. Dia juga sering ngingetin sholat, saya langsung bergegas ambil air wudlu. Yah saya nyaman. Saya dan dia sering ketemu, khususnya minggu pagi. Saya jadi selalu semangat lari pagi sumpah, meskipun terkesan menjijikan, sebelum saya memulai lari pagi, saya selalu memakai pomade terlebih dahulu, biar muka saya level up. Tapi kebiasaan saya dari dulu masih saja terjadi, AWKWARD MOMENT. Kenapa saya harus awkward gitu, kenapa?.  Dia menyapa, “Pras, lu capek ya? Nih aku bawa minum kok,” Kampret!  Mulut saya langsung kaku, mata memerah, bibir pecah-pecah, dan sariawan, eh. “Kamu kenapa Pras?,” tanyanya lagi. Dia nglihatin saya terus kampret, cantik banget anjay. “Enggak papa, kok,” balas saya, saya menghadap tanah. “Oh, ya udah kalo gitu, gua lanjut lari ya?,” balasnya sambil senyum. IH YA AMPYUN! Setiap harinya saya dan Aduhkarin selalu pesan-pesanan. Rasanya kami deket banget. Saya takut mengungkapkannya, saya takut kisah ini berakhir hanya karena sebuah penolakan. Terpaksalah saya menyukainya secara diam-diam, sering saya stalking media sosialnya, saya selalu like lebih awal, semua itu karena saya menyukainya.  Hal yang saya benci dari diri saya sendiri adalah pesimis. Saya berpikir bahwa bersamanya hanya sebuah angan yang tak bisa tergambar. Sedangkan dia, dia selalu bergaul dengan banyak laki-laki yang kaya, keren, dan semua hal tercukupi. Banyak yang menyukainya, tapi dia menolaknya. Tapi saya sering meninggalkan komentar di akun Facebooknya, dia tidak sombong, dia selalu membalas komentar dari saya. Sampai ada suatu masa, saya jalan disekolah, ada segerombolan murid sedang duduk istirahat, saya lewat, saya tak sengaja mendengar omongan mereka, “Jadi bocah ini, yang lagi deket sama Aduhkarin, jelek banget lagi, ih ga pantes,” saya tetap biarkan. Anggap saja itu adalah angin yang lewat, di kelas, ada yang gosip, mereka ga tau kalo ada saya. “Eh denger-denger  Pras lagi deket sama Aduhkarin ya? Ga pantes banget anji*g,” mereka tertawa terbahak. Setiap harinya seperti itu, saya hanya diam. Saya memang pendiam, saya ga berani bertindak. Saya juga sempat kaget, ketika Aduhkarin memposting sebuah foto di Facebook, ada salah satu temannya yang komentar, begini, “Ciyee, buat dia ya?,” sebut saja nama yang komentar Logaritma. Ada temannya kembali membalas komentar Logaritma, “Dia siapa?” lalu Logaritma membalas, “Itu lo yang sering komentar disetiap postingan Aduhkarin, udah gitu, tau ga? Mukanya jelek banget tau, hiii jijik,” komentar Logaritma. Aduhkarin tidak membalas komentar mereka, saya juga tidak tau apa yang dipikirkan Aduhkarin selanjutnya. Rasanya, semua kejadian itu membuat Aduhkarin malu dekat-dekat dengan saya lagi. Dia ga mau SMS lagi, Chat di Facebook, Minggu-pun Aduhkarin tak pernah saya lihat. Kenapa ya? Banyak yang iri jika saya lagi dekat dengan seseorang?.  Satu hal, iri tanda tak mampu. Dua bulan lebih saya dan Aduhkarin berhenti pesan-pesanan. Pada suatu hari, saya buka Facebook iseng stalking dia, dan apa yang saya lihat? Apa yang saya lihat? Dia telah menjalin hubungan dengan seseorang. Hancur sudah, hancur sudah semuanya. Dari kejadian itu, saya memang sadar, bahwa, mungkin belum saatnya saya menjalin sebuah hubungan. Dan mungkin omongan mereka benar, mereka benar aku tak pantas mengenalmu.




“Percayalah, semuanya  akan terjadi disuatu masa, dimana yang dulunya mencaci, nantinya akan mencari setengah mati”
Share:

Wednesday, February 1, 2017

NGENESEAKU EPS. 02



     
                 

            Lanjut, ini adalah hal yang paling saya bingungkan dari cewek (terhadap saya). Dulu pernah saya paksain deketin cewek, saya SMS, dibales,” tapi kok nomornya beda ya?”, tutur saya dalam hati. Saya berpikir mungkin itu simcard yang satunya lagi, seneng banget rasanya. Saking senengnya, eh ternyata balasannya, “ANJING LO, GAUSAH GANGGU PACAR GUA, KALO BERANI BERANTEM DULU SAMA GUA NJENG” Ternyata nomor pacarnya, walaupun lewat SMS, saya tetep takut coeg. Karena saya penasaran, saya ga nyerah, saya cari yang lain lagi. Pernah saya nyoba chat cewek entah siapa lewat facebook, dia ga bales-bales, besoknya saya lihat akun saya udah diblokir dia. Pernah juga saya chat yang lain lewat Facebook, awalnya dia ngebales, tapi lama-lama enggak. Ternyata, dia punya temen cewek yang satu sekolah dengan saya. Temen cewek yang satu sekolah dengan saya itulah yang menghancurkan semuanya. Temen saya (bukan temen ceweknya dia) pernah denger (nguping) dan bilang ke saya. Ini serius temen saya sendiri yang bilang, “TONG, DIA GA MAU BALES CHAT LO KARENA SI DERPINA BILANG KE DIA KALO MUKA LO ANCUR KAYA NASI DIAWETIN” Anjay, gagal lagi gagal lagi. Ada lagi yang terakhir, saya nyari cewek yang lain lagi, malamnya saya chat, bahkan balasannya enak banget dihati, uh, ga cuek gitu. Dan setelah berminggu-minggu kami chattingan lewat Facebook, saya beranikan diri ngajakin ketemuan. Saya tetep percaya diri walaupun suka awkward kalo lagi ngomong sama cewek. Kami sepakat untuk ketemuan di Alun-alun kota. Setelah lama menunggu, hari yang dinanti-nantikanpun sudah datang, saya berangkat bersama teman saya, tidak usah saya sebut namanya. Toh dia ke Alun-alun juga niatnya latihan sepak bola. Saya lalu duduk mencari tempat yang strategis, setelah menemukan tempat yang oke, saya nunggu dia datang, saya tungguin lama banget belum datang juga. Tapi sebentar, saya heran dideket pohon ada dua cewek lagi ngumpet. Pandangan mata ke arah saya semua, yang satu ketawa, yang satunya lagi masang ekpresi mau muntah, entah apa maksudnya. Satu menit setelahnya, “Loh, kok malah pergi” tutur saya dalam hati. Dia pergi begitu saja, tanpa ada ucapan sampai jumpa. Saya mikir positif aja, mungkin itu bukan dia. Karena saya setia orangnya, saya tetap duduk ditempat, saya ga pergi, saya belum memutuskan untuk pulang, walaupun saya sudah nungguin berjam-jam, karena merasa dibohongi, barulah saya memutuskan untuk pulang. Malamnya dia biasanya chat duluan, jadinya engga, karena bingung, akhirnya saya dulu yang chat, “Hai, tadi kamu ga datang di Alun-alun kenapa?,” tanya saya lewat chat Facebook. Lama banget nungguin dibales, akhirnya dia bales juga, “Aku dateng kok.” singkatnya. Bingung, saya balas lagi, “Loh, kok ga kelihatan,” tanya saya balik. Dia bales cepet, “Kayanya lo lihat gua, gua tadi yang ada dideket pohon, udah deh, mulai sekarang dan seterusnya lo ga usah chat gua lagi, lo gausah like postingan gua apalagi komentar” balasnya. Ngenes, dia langsung blokir akun Facebook saya setelah chat itu berakhir, sebelumnya dia bilang ke saya, kalo foto Facebook saya dikira pake Photosop (di edit) semua padahal TIDAK sama sekali. Dear you, saya memang buruk dalam masalah percintaan, tetapi setidaknya saya bukan laki-laki abal-abal yang suka ngedit fotonya sendiri (dikasih effect pemutih, dan apa lain sebagainya). Ya mungkin ini adalah alasan kenapa saya jarang upload foto saya sendiri dimedia sosial. Dari kisah itu, saya mulai berpikir, “Udahlah, cewek mah jahat semua, yang baik cuma emak doang” Mental saya langsung turun, dan semenjak kejadian itu juga, saya memutuskan untuk tidak mendekati cewek lagi (lagi).


Sekarang pengalaman saya nembak cewek, walaupun ini adalah momen jati diri saya sebagai laki-laki, tapi ya biarlah, buat seneng-seneng saja. Saya sudah x kali nembak cewek dalam hidup saya, dan semuanya-pun ditolak (ga usah ketawa). Alasan penolakannya-pun beragam, tetapi anehnya, ada kesamaan dari ke-5 cewek yang nolak saya tersebut. Apa kesamaannya? kesamaannya akan hadir pada NGENESEAKU EPS. 03
Share:

NGENESEAKU EPS.01



        
          Kali ini saya akan nyeritain kisah perjalanan relationship yang pernah saya alami sampai sekarang. Saya punya pengalaman percintaan yang bagi saya sangat mengesankan. Saya adalah seorang pelajar, jurusan saya bukan Bahasa Indonesia tapi saya suka sastra. Saya juga seorang PHP, ya, Penikmat Harapan Palsu. 2016 adalah tahun yang membanggakan bagi saya, dimana tahun lalu (2016) saya dinobatkan sebagai Jomblo Of The Year 2016 oleh salah satu produk gagal dikeluarga saya sendiri. Saya berharap, semoga saja penghargaan itu adalah penghargaan terakhir bagi saya. Selamat datang 2017, tahun baru semoga pacar juga baru (untuk pacar gebetan gua). Langsung aja deh ke topik cerita. Oke, boleh dibilang saya buruk dalam masalah percintaan. Bukannya apa-apa, itu semua karena muka saya yang mungkin terlalu ga ganteng. Ada cewek yang bilang, “aku ga butuh pacar yang ganteng tapi aku butuh pacar yang setia” Ini adalah sepenggal kata-kata bullshit yang pernah dilontarkan cewek. Dear cewek, kalo lo cari yang setia, dan lo punya pacar ga ganteng lo bakal bisa cerita apa sama temen-temen lo? setia dari hati dan ganteng itu dari luar, otomatis semua akan melihat dan semua bisa membedakan. Saya yakin, pada saat situasi itu lo akan malu, dan lo bakal mutusin pacar lo yang ga ganteng itu. Saya percaya, ga ada cewek yang lebih memilih yang setia dari pada yang ganteng. Apa saja kriteria pilihan cewek? ada tiga, cewek bakal milih laki-laki yang TENAR, BANYAK UANG, dan GANTENG. Kenapa bisa begitu, berikut ulasannya;
1. TENAR
Cewek bakal lebih suka laki-laki yang tenar, laki-laki tenar sama dengan banyak cewek yang ngejar. Di situlah cewek menyukainya. Cewek bakal merasa beruntung bisa jadi pacarnya karena menurut dia, dia adalah salah satu cewek yang dipilih dari ribuan cewek lainnya. Dan jika dia (cewek) tipikal pembohong, setidaknya dia cuma numpang tenar doang.
2. BANYAK UANG
Bisa kita sebut kaya, bukan kaya monyet (itu gua, beda arti). Kalo cewek punya pacar yang ga kaya, dia akan malu, MALU. Dia ngrasa derajatnya lebih tinggi, dan ga kaya juga sama dengan ga punya motor, dia ingin diantar atau dijemput sekolah, main bareng, touring, makan-makan. Nah makan-makan juga butuh uang pastinya, siapa yang bayarin kalo pacarnya ga punya uang. Cewek itu ga modal, dia maunya dibayarin. Kalo saya, palingan juga saya ajak patungan, biar adil.
3. GANTENG
Seperti yang sudah saya jelaskan diatas tadi, cewek juga bakal malu kalo dia punya pacar yang jelek. Jika ada cewek yang punya pacar jelek, percayalah, cewek bakal ga bisa bangga-banggain pacarnya kepada temen-temennya karena sadar pacarnya ga ganteng. 
Ulasan tersebut hanya berdasarkan pengalaman saya saja, saya juga bukan cewek. Jadi jangan bingung, “Ini orang kok tau semua tentang cewek, jangan-jangan dia..” engga-engga, saya laki-laki, cuma make kira-kira aja. 

     Lanjut, ini adalah hal yang paling saya bingungkan dari cewek “terhadap saya”. Dulu pernah saya paksain deketin cewek, saya SMS, dibales,” tapi kok nomornya beda ya?”, tutur saya dalam hati. Saya berpikir mungkin itu simcard yang satunya lagi, seneng banget rasanya. Saking senengnya, eh ternyata balasannya, “ANJING LO, GAUSAH GANGGU PACAR GUA, KALO BERANI BERANTEM DULU SAMA GUA NJENG” Ternyata nomor pacarnya,walaupun lewat SMS, saya tetep takut coeg. Karena saya penasaran, saya ga nyerah, saya cari yang lain lagi. Pernah saya nyoba chat cewek entah siapa lewat facebook, dia ga bales-bales, besoknya saya lihat akun saya diblokir dia. Pernah juga saya chat yang lain lewat facebook, awalnya dia ngebales, tapi lama-lama enggak. Ternyata, dia punya temen cewek yang satu sekolah dengan saya. Temen cewek yang satu sekolah dengan saya itulah yang menghancurkan semuanya. Temen saya (bukan temen ceweknya dia) pernah denger dan bilang ke saya. Ini temen saya sendiri yang bilang, “TONG, DIA GA MAU BALES CHAT LO KARENA SI DERPINA BILANG KE DIA KALO MUKA LO ANCUR KAYA NASI DIAWETIN” Anjay, gagal lagi gagal lagi. Ada lagi yang terakhir, saya nyari cewek yang lain lagi, malamnya saya chat, bahkan balasannya enak banget dihati, uh, ga cuek gitu. Dan setelah berminggu-minggu kami chattingan lewat facebook, saya beranikan diri ngajakin ketemuan. Saya tetep...... (Next Episode 2)
Share:

FLASHBACK MASA SMP



                                      
                                       


                Saya mau flashback dulu tentang kejadian mengesankan yang pernah terjadi dimasa SMP. Cukup waktu kelas 9 saja, kelas 7 dan 8 sudah lupa. Saya sekolah selalu berangkat pagi, alasan yang pertama, kalo berangkat jam 7 kurang, didepan kantor akan ada guru pemegang alat pemotong rambut. Saya takut kalo sampai kena  potongan sama pak guru. Ada temen saya yang cuma dipotong tengahnya doang, pinggir kanan atau kirinya doang, hingga kadang hatinya juga ikut terpotong, terpotong oleh perasaan malu yang tiba-tiba datang. Alasan yang kedua, ngerjain PR. Wuhuuuu momen ini bukan momen langka bagi para pelajar di Indonesia. Dari momen mainstream tersebut, saya jadi bisa menyimpulkan beberapa fungsi dari mengerjakan PR disekolah, antara lain ;
1. Meningkatkan tali persaudaraan antar semua umat
2. Melatih kesabaran (Biasanya yang udah mengerjakan PR dirumah)
3. Melatih kecepatan dalam menulis
4. Membuat orang pemalas jadi berangkat sekoalah lebih pagi
5. Meningkatkan interaksi antar teman ( Bro, lo udah ngerjain PR belum? )

Mungkin ada juga efek samping dari mengerjakan PR disekolah, yaitu ;
1. Sering bohong  ( Aslinya udah ngerjain, tapi bilangnya belom)
2. Berantem ( Ini akibat dari temen yang pelit)
3. Penipuan jawaban ( Dari rumah udah                Inisiatif, ngerjain PR dua kali. Yang yakin bener disimpen di tas, yang salah diberikan sama temen yang belum ngerjain)

Mungkin hanya itu saja yang dapat saya contohkan, sebenarnya masih banyak. Males juga nulis banyak-banyak, lagian yang baca juga sedikit. Hiks


                Yang terakhir tentang WC atau kamar mandi sekolah. Bukannya apa-apa, tapi WC merupakan bagian paling penting dalam kenyamanan sekolah. Iya kan? WC sekolah saya dulu uh, gimana ya? Susah banget ngebayanginnya. Masuk WC, pengunjung/traveling langsung diberikan beberapa karya seni buatan siswa. Ada berbagai karya seni disana. Saya masuk, ditembok ada tulisan : SUPRI SPEED, seolah menunjukan kalo pembuat seni adalah seorang anak racing. No HP/Pin BBM, menunjukan kalo pembuat adalah Jones akut, dia kesepian, mungkin butuh teman chat waktu itu. Ada juga kata-kata kotor, L**** ARAB, mungkin pembuat ingin menunjukan bahwa dia menyukai negara Arab (mungkin). Masih banyak sih, tapi ya gak usah lah ya. Lanjut lalu saya masuk kamar mandi, dan disanalah, keresahan para siswa ditulis. Misal ada Guru yang galak/tidak suka sama perlakuannya, siswa menulis ditembok : PAIJO BANGS*T, PAIJO A** atau juga PAIJO SOK GANTENG. Mereka sangat bodoh menurut saya, guru yang setiap harinya berusaha memberikan ilmu yang bermanfaat, malah dicaci seenaknya sendiri. Saya heran, apa mereka sekolah hanya ingin mencari teman saja, gebetan saja, atau menambah kesibukan saja? Kok sampai-sampainya tak punya sopan sama sekali tidak menghargai guru yang mengajar. Sungguh Menjijikan. Next time waktu itu saya sama temen saya datang ke kamar mandi dengan maksud mau buang air kecil. Temen saya begitu pedenya, dia begitu menjijikan sekali, didepan pintu sebelum masuk ke kamar mandi, dia bergaya seperti Cristiano Ronaldo mau free kick. Saya kira dia suka sama Cristiano Ronaldo, tapi ternyata tidak. Dia lihat kiri kanan terlebih dahulu, setelah merasa aman, dia pandangan kedepan lalu kencing sambil jalan, anjay. Gayanya tetap seperti CR7 mau free kick, dengan percaya dirinya sampai gak sadar airnya menyebar dimana-mana. Karena saya mau lewat, saya tegur : “GOBLOK BANGET LO NJENGG, KAMAR MANDI UDAH ADA NGAPAIN LO KENCING DISITU, GUA MAU LEWAT NJENGG” Tegur saya. Siapa yang gak jijik coba, kok bisa ya orang kaya gitu ada di dunia. Lagi keesokan harinya saya pergi ke kamar mandi dengan teman yang berbeda, kali ini orangnya pendiam. Saya masuk ke kamar mandi, BANGKE, kuncinya gak ada. Waktu itu saya buang air kecil. Pintu tetep ditutup walaupun tanpa terkunci, pikiran tetap waspada dan wajah tetep stay cool. Beruntung waktu itu kamar mandi masih sepi. Seneng, coba bayangin deh kalo gak ada kunci, dan didalemnya ada orang buang air besar. Lagi momen enak-enaknya, tiba-tiba ada segerombolan suara sepatu atau langkah kaki. Pintunya tanpa sengaja dibuka, diluar ada banyak orang. Braak! Jujur saya gak bisa bayangin bagaimana perasaan orang itu. Di lihatin banyak orang, bagian vitalnya terumbar secara paksa, dan hatipun pasti tak akan bisa menerima. Menyakitkan banget sumpah. Selesai buang air kecil tadi, temen saya langsung mengajak saya ke dalam kamar mandi. Saya gak tau apa maksudnya, kami masuk pintu lalu dikunci pake paku (anjay). Dia ingin menunjukan sesuatu, dan kampret. Dia buang air kecil di bak/kulah kamar mandi. Entah apa yang dipikiran dia, apa dia kemasukan setan kamar mandi ataupun arwah mad dog. Saya awalnya gak percaya dia berani melakukan ini. Saya tegur juga, “Gila lo, ini tempat buat mandi orang begok . Lo gak kasihan apa? Gila lo sumpah” dianya bales, “Biarin, biar mandinya ada aroma spesialnya” VANGSAT. Itu semua baru kamar mandi Laki-laki, la yang cewek? Ada dong. Iseng waktu itu masuk, kampret. “Bro, ini kertas apa? Bentuknya kok beda ya?” kata temen saya. Temen saya teriak nemu pembalut dengan merk ternama. Coba melihat karya seni dari cewek, kami coba lihat tembok di dalam kamar mandinya. Ternyata benar memang ada. Beda dengan laki-laki. Cewek, ngasih kode ke laki-laki yang disukainya juga ada yang lewat tembok. Misal lagi sedih : “AQ TUCH CYANX BGTZ ZMA UE, TAPI CNAPA UE GX PEKA, CNAPA UE BACA DOANX ZMZ AQ” Ini maksudnya apa? Ngode orang ditembok! Tembok WC lagi. Ya gitulah contohnya, rada begok  gitu. Ada juga kata-kata bijak tentang percintaan. Pokoknya anehlah, jijik tapi gimana lagi? Apa kaidahnya coba? Kesimpulannya kita sebagai pelajar harus menjadi pelajar yang terdidik, punya skill, dan punya mental yang kuat. Yang tipikal pendiam, mulailah disadari. Di dunia kerja, orang pendiam tidak dibutuhkan sama sekali. Boleh nakal, tapi nakal yang wajar. Tetap hormati guru/orang yang membimbing kita, karena dia adalah salah satu kunci kesuksesan kita. Dan yang terakhir, kita harus senantiasa menjaga dengan baik lingkungan disekolah, jangan buang sampah sembarangan. Jangan kencing disembarang tempat, apalagi kalo di bak kamar mandi, kasihan korbannya woy. Yah sudahlah, mungkin itu saja yang dapat saya ceritakan, kurang lebihnya saya mohon maaf. Cerita ini sudah saya samarkan, saya tidak menyebutkan sebuah nama suatu lembaga. Dengan demikian, cerita ini tidak ada unsur hinaan atau menyinggung kepada suatu pihak tertentu.
Share: