Hari Minggu yang cerah,
pagi-pagi saya biasakan untuk lari dari kenyataan, eh, lari pagi maksudnya.
Saya memilih untuk pergi ke alun-alun kota. Saya sendirian, karena teman
sekampung saya pembohong, di hubungi ga direspon-respon, disamperin eh ternyata
tidur. Saya lari dengan gagahnya, terlihat ada segerombolan cewek lagi lari,
saya berhenti sejenak, karena mamandangnya terasa lebih enak. Lupakan, saya
lari memutari alun-alun tujuh kali, lelah. Saya istirahat sembari bermain HP, tiba-tiba
saya dibuat kaget, muncul si kampret yang tidak salah lagi adalah teman sekolah
saya, lari bersama cewek cantik, tersenyum begitu saja, menarik hati agar bisa
mengenalinya. Saya kira itu pacarnya, tapi ternyata bukan. Karena saya
penasaran, saya panggil teman saya yang tadi “Eh Yonglek (nama samaran)
beruntung banget ya, lu bisa depatin dia, padahal, muka lu sama gua kan hampir
sama.” Yonglek mukanya emang jelek, tapi, jangan tanya pengalaman
relationshipnya, jujur ya, mantan dan pacarnya cantik semua. Wajar juga sih,
Yonglek terlahir dari orang kaya, setiap hari dikasih uang jajan 50.000, dirumahnya ada banyak motor
mahal, siapa yang ga mau sama dia coba? Cewekkan, maunya sama yang banyak duit,
haha. “Bukan Pras, ini tetangga gua,” balas Yonglek. Perasaan saya langsung senang
dan bahagia. Besoknya, di sekolah saya
samperin si Yonglek, “Eh kutil anoa, gua minta nomornya dia dong,” minta saya,
“Dia siapa Cuk?,” balasnya. Aduh saya lupa tanya siapa namanya kemarin, karena
lupa? gimana lagi, saya jelasin ke Yonglek dengan detail, saya sebenarnya masih
ragu-ragu karena biasanya Yonglek cuma iya-iya doang. Tapi ternyata tidak,
setelah Yonglek saya jelaskan, ternyata nama ceweknya adalah Aduhkarin (nama
samaran). Pulang sekolah, Yonglek akhirnya memberikan nomor HP Aduhkarin kepada
saya (Sekolah tidak boleh bawa HP). Seperti biasa, saya SMS. Nunggu, nunggu,
nunggu, nunggu, nunggu, nunggu, dan akhirnya dibales juga. Dia selalu membalas
pesan saya, kadang kami selalu SMSan sampai larut malam, sering ngucapin
selamat makan, selamat tidur, selamat malam, dan masih banyak lagi. Dia juga
sering ngingetin sholat, saya langsung bergegas ambil air wudlu. Yah saya
nyaman. Saya dan dia sering ketemu, khususnya minggu pagi. Saya jadi selalu
semangat lari pagi sumpah, meskipun terkesan menjijikan, sebelum saya memulai
lari pagi, saya selalu memakai pomade terlebih dahulu, biar muka saya level up. Tapi kebiasaan saya dari dulu
masih saja terjadi, AWKWARD MOMENT. Kenapa saya harus awkward gitu, kenapa?. Dia
menyapa, “Pras, lu capek ya? Nih aku bawa minum kok,” Kampret! Mulut saya langsung kaku, mata memerah, bibir
pecah-pecah, dan sariawan, eh. “Kamu kenapa Pras?,” tanyanya lagi. Dia
nglihatin saya terus kampret, cantik banget anjay. “Enggak papa, kok,” balas
saya, saya menghadap tanah. “Oh, ya udah kalo gitu, gua lanjut lari ya?,”
balasnya sambil senyum. IH YA AMPYUN! Setiap harinya saya dan Aduhkarin selalu
pesan-pesanan. Rasanya kami deket banget. Saya takut mengungkapkannya, saya
takut kisah ini berakhir hanya karena sebuah penolakan. Terpaksalah saya
menyukainya secara diam-diam, sering saya stalking
media sosialnya, saya selalu like
lebih awal, semua itu karena saya menyukainya.
Hal yang saya benci dari diri saya sendiri adalah pesimis. Saya berpikir
bahwa bersamanya hanya sebuah angan yang tak bisa tergambar. Sedangkan dia, dia
selalu bergaul dengan banyak laki-laki yang kaya, keren, dan semua hal
tercukupi. Banyak yang menyukainya, tapi dia menolaknya. Tapi saya sering
meninggalkan komentar di akun Facebooknya,
dia tidak sombong, dia selalu membalas komentar dari saya. Sampai ada suatu
masa, saya jalan disekolah, ada segerombolan murid sedang duduk istirahat, saya
lewat, saya tak sengaja mendengar omongan mereka, “Jadi bocah ini, yang lagi
deket sama Aduhkarin, jelek banget lagi, ih ga pantes,” saya tetap biarkan.
Anggap saja itu adalah angin yang lewat, di kelas, ada yang gosip, mereka ga
tau kalo ada saya. “Eh denger-denger
Pras lagi deket sama Aduhkarin ya? Ga pantes banget anji*g,”
mereka tertawa terbahak. Setiap harinya seperti itu, saya hanya diam. Saya
memang pendiam, saya ga berani bertindak. Saya juga sempat kaget, ketika
Aduhkarin memposting sebuah foto di Facebook,
ada salah satu temannya yang komentar, begini, “Ciyee, buat dia ya?,” sebut
saja nama yang komentar Logaritma. Ada temannya kembali membalas komentar
Logaritma, “Dia siapa?” lalu Logaritma membalas, “Itu lo yang sering komentar
disetiap postingan Aduhkarin, udah gitu, tau ga? Mukanya jelek banget tau, hiii
jijik,” komentar Logaritma. Aduhkarin tidak membalas komentar mereka, saya juga
tidak tau apa yang dipikirkan Aduhkarin selanjutnya. Rasanya, semua kejadian
itu membuat Aduhkarin malu dekat-dekat
dengan saya lagi. Dia ga mau SMS lagi, Chat
di Facebook, Minggu-pun Aduhkarin tak
pernah saya lihat. Kenapa ya? Banyak yang iri jika saya lagi dekat dengan
seseorang?. Satu hal, iri tanda tak
mampu. Dua bulan lebih saya dan Aduhkarin berhenti pesan-pesanan. Pada suatu
hari, saya buka Facebook iseng stalking dia, dan apa yang saya lihat?
Apa yang saya lihat? Dia telah menjalin hubungan dengan seseorang. Hancur sudah,
hancur sudah semuanya. Dari kejadian itu, saya memang sadar, bahwa, mungkin
belum saatnya saya menjalin sebuah hubungan. Dan mungkin omongan mereka benar,
mereka benar aku tak pantas mengenalmu.
“Percayalah, semuanya akan terjadi disuatu masa, dimana yang dulunya
mencaci, nantinya akan mencari setengah mati”

0 comments:
Post a Comment