Monday, November 7, 2022

EGO

 Sudah lebih dari sepekan kita tak kunjung usai bertikai. Entah apa, salah siapa. Individualis tetap menjadi masalah kita, sedari dulu. 


Kita saling menggenggam waktu. Tidak ada keterbatasan dalam kita bercakap. Kita, punya waktu luang tapi menolak menyapa dulu. Mungkin jika diibaratkan, kita seperti sedang ada pada ruangan yang sama. Anggaplah satu kelas. Kita saling melihat, kita tau kesibukan masing-masing, tapi kita enggan menyapa.


Haruskah aku meminta maaf terlebih dulu? Tapi apa salahku? Terlalu rumit bagiku untuk memahami isi kepalamu. Aku bukan peramal juga bukan manusia sakti. Bagaimana mungkin masalah ini usai jika  kita menolak berdiskusi?


Haruskah aku mengemis? Haruskah aku sujud di depanmu dan mengharap belas kasihanmu? Menyebalkan sekali. Bagiku, untuk apa memperjuangkan seseorang yang tak mau diperjuangkan. 


Bukankah kita sudah dewasa?

Bukankah kita saling mendewasakan?


Tentu, justru itu yang menjadi masalah. Sebagai sosok dewasa kita paham betul rasanya kehilangan—dan kita saling mewajari itu. "Yaudahlah" Kalau sudah begitu ya mau bagaimana lagi. Faktanya, dibanding harus memperbaiki, kita lebih memilih mengikhlaskan. Apakah hubungan ini hanya sebatas  penampung cerita? Hubungan yang kembali putih saat banyak dilanda gundah, lalu kita saling berkeluh kesah tentang kebodohan hidup ini. Buruknya, mungkin ketika masalah itu selesai kita kembali hitam.


Kita cenderung menolak hal-hal kecil seperti; selamat pagi, sedang apa, udah makan. Dengan alasan norak dan kebocahan. Lantas seperti apa hubungan orang dewasa? Ucapan semangat berangkat kerja dan bagaimana hari ini? Menyebalkan sekali. Tidak ada lucu-lucunya. Terlalu serius. Mati saja kau dibunuh dewasa. Salama ego masih tertidur pulas dalam diri kita, kita tetaplah sepasang anak kecil yang sok-sokan menjadi orang dewasa. 

Share:

0 comments:

Post a Comment