Mungkin kesannya agak egois ketika aku mengira kita punya rasa yang sama. Anggap saja lah ya. Kita terjebak pada fase kosong yang menyebabkan kita enggan menuju ikatan itu. Benar, ikatan yang lebih serius. Padahal tinggal satu langkah lagi. Aku pikir kita paham betul risikonya. Jadi bingung. Tapi ya itu sih wajar. "Kita ga bisa kontrol hati ini buat suka sama siapa, tapi kita masih punya logika buat mikir jalan yang terbaik seperti apa." Kita selalu membicarakan tentang logika yang tak henti-hentinya berusaha memisahkan kita. Yang membuat kita membatasi perasaan kita satu sama lain. "Jangan sampai kita terbawa pada ikatan itu." Aku berdiskusi dengan logika tentang tujuan dari hubungan ini. Dan sudah jelas, mengisi waktu sepi. Hati kita membutuhkan cahaya pada pikiran yang gelap. Namun setelah dipikir-pikir, ternyata itu hanya menguras energi saja. Aku pernah membaca kata-kata yang aku temui di media masa bahwa, "Jatuh hati-lah saat kamu benar-benar siap, bukan karena kamu kesepian." Kita paham baik buruk sifat kita masing-masing. Kita paham latar belakang kita masing-masing. Jadi, ya aku putuskan untuk berada pada pihak logika. Kita juga tidak ingin saling memiliki. Kita hanya terperangkap saja—dan aku ingin keluar dari perangkap itu. Sendirian.
0 comments:
Post a Comment