Monday, November 7, 2022

Kita Sama-Sama Berdoa, Bukan Saling Mendoakan

Tidak ada yang salah, kita saling berdoa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Aku juga percaya Tuhan tidak akan bingung mengambil keputusan. Entah nantinya doaku atau doamu yang dikabulkan, aku sebagai manusia hanya bisa pasrah. Lagipula, bukankah terlalu egois jika aku terus memaksakan diri mengejarmu? 


Aku paham jika Tuhan akan mengijabahi permintaan bagi setiap hambanya yang mau berusaha. Namun, bukankah kisah ini terlalu rumit? Memang benar kita saling berdoa. Hanya saja aku berdoa pada Tuhan agar bisa bersamamu, sedangkan kau berdoa pada Tuhan agar bisa bersamanya.


Kita seperti dua manusia yang sedang belanja di toko buku, kita sama-sama sedang mencari buku. Anggaplah genre-nya sama, sejarah. Tapi aku cari buku "Sejarah Dewa Yunani" sedangkan kau "Sejarah Penyebaran Agama Islam." Kita punya tujuan yang sama, mencari buku. Kita sama-sama antusias dalam sejarah di dunia ini, tapi tidak dengan isi. Berbeda.


Maksudku, aku bukan sosok religius seperti yang kau pilih. Jauh berbeda dengan karaktermu. Aku bukan orang yang setiap hari story whatsapp-nya potongan surat atau hadits, bukan juga pengingat akan datangnya hari-hari akhir, lalu sorenya berisi postingan mengajar ngaji anak kecil. Jangankan begitu, bicarapun aku masih cenderung kasar. 


Di sini aku tidak mau membandingkan sosok manusia yang kau kejar, manusia yang selalu kau doakan agar bisa bersamamu kelak. Karena aku pikir setiap manusia adalah pendosa. Kau, aku, atau dia adalah bagian dari itu. Setiap manusia punya sisi gelapnya masing-masing yang beruntungnya, Tuhan masih berbaik hati menutupinya.


Semua ini adalah tentang pilihan, dan kau berhak memilih apa yang kau pilih. Tuhan telah menunjukan gambaran, menyadarkanku bahwa kau berhak mendapatkan apa yang kau mau. Aku kalah. Aku juga sadar itu. 


Aku punya banyak waktu untuk menunggu, aku punya banyak waktu untuk terus berusaha. Namun saat kau datang dengan Tuhan, aku bisa apa?

Share:

0 comments:

Post a Comment