Monday, November 7, 2022

Kamuflase

Sudah hampir larut malam aku masih berdiskusi tentang sesal kepergianmu. Pikiranku terbelah dua antara bersalah dan tidak bersalah. Entahlah, ego manusia memang sulit dikalahkan.


"Hari ini aku masak sop iga, loh." 

"Yaelah, sop mah gampang tinggal campurin garam sama air terus jadi," ejekku.


Kau marah.


Panjang sekali chatmu. Bagiku kau lucu ketika sedang marah. Cerewet, persis seperti Ibu ketika sedang menasihatiku. Mungkin itu satu alasan  juga kenapa aku menyukaimu. 


Kita selalu membicarakan tentang ketidaksabaran akan hari esok. Dulu aku pikir akhir pekan adalah hari yang dinanti. Bahkan ketika sudah terlewati. Selalu ada rencana bahkan jauh-jauh hari. 


"Besok temenin aku ke Pasar Kosambi, ya."


Sudah menjadi kebiasaan ketika kau menemukan vidio makanan di Instagram. Hampir setiap hari pemberitahuan ponsel-ku dipenuhi tag vidio akun-akun foodvlogger. Kau selalu penasaran ingin mencoba dan aku adalah kelinci percobaan setiap resep barumu. 


Aku lalu menelpon Ibu dan berbicara tentang banyak hal hari itu. Bukan tentang harga bunga atau  harga kiloan rempah-rempah. Tapi tentang bagaimana aku bisa menemukan sosok sepertinya. Sosok periang dan jago masak. Ibuku tertawa dan penasaran dengan  masakanmu. Kala itu kau malu, tapi bagiku itu wajar.


"Masak apa, Nak." Ibuku.

"Tolong, Bu. Aku mau diracunin!!" Balasku.

"Astaghfirullah enggak! Hihhhhhh!" Balasmu.


Ada janji yang belum kau tepati pada Ibuku, kau akan membawakan masakanmu pada Ibuku saat pulang kampung nanti.


Tapi, kita 

malah sudah usai

sebelum itu.


Kau selalu membuatku yakin bahwa dengan hadirmu hidupku akan lebih berwarna. Satu hal yang ingin aku tanyakan, lantas kepada siapa  lagi (kini) kau mengirimkan foto makanan setelah tidak denganku?

Share:

0 comments:

Post a Comment