Suatu hari Lisa merasa lapar. Tak seperti biasanya, hari itu Lisa memutuskan makan di restoran mewah. Lisa baru saja gajian, meskipun gajinya sedikit Lisa tetap bertekad bulat makan di sana.
Di perjalanan menuju restoran mewah, Lisa sempat bertemu dengan pelayan-pelayan warteg langganannya, Lisa memang tidak suka makan di satu tempat, oleh karena itu banyak pelayan warteg yang kenal dengan Lisa. "Sini mampir," sapa pelayan warteg pertama. "Hehe, engga Bu. Makasih ya," balas Lisa dengan sopan.
Sepanjang perjalanan Lisa terus disapa oleh pelayan warteg langganannya, "mampir, mampir." Yang pada akhirnya membuat Lisa murka. "Apaan sih, ngga level aku makan di warteg. Nggak enak! Sekarang tuh, lidahku cuma melayani makanan rumah makan mewah. Restoran mahal! Ngerti gak!" Ujar si Lisa. Bukannya sakit hati oleh ucapan Lisa, para pelayan warteg malah tertawa terbahak. "Yaelah, sok-sokan ngrendahin lu kek udah paling oke aja. Service dulu tuh mulut," kata pelayan warteg. "Hahahaha," tambahnya.
Dengan memendam amarah dan sedikit kesal, akhirnya Lisa sampai di restoran mewah. Baru beberapa langkah masuk, Lisa langsung jadi pusat perhatian pengunjung di sana. Wajar saja karena Lisa memakai baju kusut dan sandal jepit sedangkan kebanyakan pengunjung di sana berbusana rapi dan memakai sepatu.
Tak selesai disitu, sesampainya di tempat pemesanan Lisa dipertemukan dengan pelayan yang judes. Di tanyalah Lisa oleh pelayan, "Mau pesan apa." Lisa bingung karena semua menu makanan memakai bahasa inggris, lama sekali Lisa memilih. "Ini mas," yang membuat pelayan tertawa karena memesan makanan paling murah di restoran tersebut. Bagi Lisa itu termasuk mahal. Belum juga makan, Lisa sudah merasa rendah di restoran mewah tersebut.
Setelah 15 menit menunggu, pesanan Lisa akhirnya datang di meja. "What!" Lisa terkejut kenapa porsinya sedikit padahal dia sudah membayar 300 ribu. Aromanya juga tidak cocok di indera penciuman Lisa. "Baunya kok gini banget hiks." Ujar Lisa dalam hati. Tapi karena lapar dan sudah membayar uang banyak, Lisa tetap makan makanan tersebut. Tentu Lisa belum kenyang. "Duh, mana duit tinggal segini. Udah gitu lupa buat story lagi." Akhirnya dengan penuh paksa Lisa memasan satu porsi lagi. Sedihnya, hasilnya-pun sama saja: belum kenyang.
Sampai akhirnya (karena uang Lisa hampir habis) Lisa memutuskan untuk meninggalkan restoran itu dengan rasa masih lapar. Dalam perjalanan pulang, dengan tubuh lemas Lisa bertemu dengan pelayan-pelayan warteg lagi. Lisa mencoba masuk, namun kali ini tidak ada yang menerima Lisa. Perkataan Lisa membuat semua warteg menutup rapat-rapat kedatangannya.
Hingga Lisa-pun berhenti karena tidak kuat menahan lapar. Air matanya mengalir dan hatinya penuh dengan penyesalan. "Lisa kenapa?" Ujar seorang Ibu-Ibu. "Saya lapar Bu," balas Lisa sambil menangis. "Loh, kenapa nangis. Sini mampir ke warteg saya. Bebas mau ngambil nasi se-gunung juga boleh." Lisa terheran dan kaget, ternyata Ibu itu adalah pelayan warteg pertama yang ia temui dalam perjalanan menuju restoran tadi. Lisa bersyukur karena masih diberi keberuntungan. Tanpa pikir panjang Lisa langsung menerima tawaran dan makan dengan lahab. Selesai makan Lisa bercerita pada pelayan warteg tentang apa saja yang terjadi hari itu.
"Ketika kamu merasa punya segalanya, jangan ngrendahin orang, ya. Di atas langit itu, masih ada langit dan... Lisa, karma itu nyata loh"
"Iya bu, Risa menyesal."
0 comments:
Post a Comment