Lelah dari segala ucap yang dirindukan. Aku beri pesan padanya yang bisa memenangkanmu. Nasib baik dan beruntung bisa mendapatkanmu.
"Di banding aku yang masih merana—yang tak henti-hentinya mengharapkanmu hingga detik ini."
Oh sudah bertahun-tahun lamanya kita keluar dari satu dimensi yang sama. Kini mengirim pesan saja sangat rumit.
Kau membalas tapi sesingkat itu.
Kau lama membalas tapi aku secepat itu.
Katamu, ada hati yang harus dijaga.
Adakalanya aku harus menerima apa yang terjadi selama ini dihidupku. Sadar juga apa yang aku inginkan, belum pasti aku dapatkan. Kelak ucapan semua akan baik-baik saja adalah juara. Energi yang membuat hati marah menjadi pasrah.
Saat ini ada pada sosial media adalah cara yang paling baik. Post foto yang selalu aku nanti dan instastories spam selfie yang terus aku pandang lebih dari 15 detik. Aku menyukaimu titik. Meski bukan untuk aku saja, tapi bagiku itu adalah obat rasa rindu. Terimakasih telah membuatku senyum-senyum sendirian. Padahal, itu untuk semua orang. Iya, sadar. Aku paham.
Aku bahkan tak tau apa yang kau pikirkan. Apakah kadang kau memikirkanku? Sama halnya aku yang selalu mengharapkanmu? Tidak tidak—maksudku, Sama halnya aku yang sering memikirkanmu? Entahlah.
Aku hanya ingin bilang, bahwa; menyukaimu itu menyenangkan.
0 comments:
Post a Comment