
Sosial media hanyalah hiburan. Tempat berbagi kebahagiaan serta informasi terkini lewat gadget. Semua bisa terjadi disini. Kebahagiaan yang penuh tanda tanya, marah, sedih yang masih patut di pikir kembali. Cantik nan ratu, gagah bak pangeran berwibawa, semua belum tentu terjadi nyata. Itulah sosial media. Kejam tapi menyenangkan, tempat paling ampuh menghilangkan kebosanan.
Sosial media, tempat berekspresi bagi semua orang.
Kamu adalah orang pendiam. Semua orang menganggapmu seperti itu. Asing, sayu, datar. Kamu jarang tertawa, kamu bahkan sering di hujat. Hingga, semua itu berujung kekesalan. Kamu marah, jemari tanganmu mulai mengetuk huruf pada papan ketik. Tangismu seirama dengan dendam. Berbagai kata kotor, hinaan, kata yang tak seharusnya kamu utarakan terjadi menjadi dosa. Status terkirim, hatimu terasa lega. Hatimu sedikit tenang, tapi tidak dengan air matamu. Kamu berharap teman-temanmu membacanya, dan, selamat kamu berhasil. Mereka akan kaget. Ada yang merasa bersalah, ada yang tertawa terbahak-bahak. Lihatlah, kamu bahkan jadi bahan olokan lagi. Lalu kenapa? Lalu apa penyelesaian akhirnya? Ubahlah dirimu. Ikutilah perkembangan zaman asal sesuai norma dan ideologi. Kamu hanya berbeda. Saat temanmu tertawa, ikutlah tertawa. Mulailah berekspresi, jangan kaku bagai seonggok kayu. Menyindir seseorang lewat fasilitas sosial media adalah tindakan yang fatal. Cupu, hina, dan rendah. Kamu bisa datangi dia dan mintalah penjelasan. Bicarakan baik-baik jangan sampai terjadi pertikaian.
Sosial media, tempat patah hati dimensi kedua.
Kamu menyukai seseorang. Kabar tentangnya tak pernah kamu lewatkan. Selalu jadi like pertama karena kamu ingin menjadi pilihan utamanya. Atau, rajin mengirim Direct Message sebagai tanda rindu serindunya. Suatu saat, kamu di mintai tolong olehnya. Kamu dengan senang hati membantunya, dan hari selanjutnya, kamu minta tolong padanya dan entah kenapa pesanmu hanya di baca saja. Sadarlah, username-mu bukan kategori penting. Haha. Semudah username-mu di eja, semudah username-mu dibaca, jika hati enggan, tetaplah sulit terasa. Lagi, suatu saat, kamu di mintai tolong promosi akun sosial medianya. Entah lewat status, instastory, dan lainnya. Kamu bukan artis, kamu bukan sosok Awkarin yang instastory-nya penuh titik-titik. Penting, itu sama saja mengenalkan dia kepada teman-teman kamu. Mudah, seperti biasa kamu bersedia. Apakah kamu juga akan minta promosi juga? Jangan. Karena, seperti biasa. Kamu akan di tolak dengan berbagai alasan. Tentang semua ini. Percayalah, sesungguhnya dia malu berkenalan denganmu. Malu karena mungkin kamu di benci teman-temannya. Hingga, dia ikut menjadi pembenci. Tapi karena kamu baik, dia tetap segan membalas chatmu, "tanpa di ketahui teman-temannya." Kamu terkenal di suatu tempat, mempunyai like dan follower yang banyak di sosial mediamu, sadar atau tidak, ketenaranmu akan dimanfaatkan. Saat dia menjatuhkanmu, dia akan menceritakan semuanya pada teman-temannya. Saat dia memberikan 1% kebaikan kepadamu, dia akan berusaha menyembunyikannya. Dia tidak butuh history chatmu, dia hanya butuh kebaikanmu. Dia sering menganggapmu bodoh karena sering dia manfaatkan.
Percaya saja, sebenarnya kamu tau semuanya-kan? Hanya saja, kamu enggan membuat masalah berkepanjangan.
Percaya saja, sebenarnya kamu takut kehilangan dia-kan? Dia sering menjatuhkanmu, menghinamu serendah mungkin, tapi kamu tak sanggup membencinya. Kamu bersikeras bahwa kamu tetap mencintainya. Bermimpi memilikinya suatu masa. Untuk apa? Cinta memang bodoh, bukan?
Sosial media, tempat cemburu perantara.
Kamu berhubungan baik dengan dia. Segalanya, tampak baik-baik saja. Instastory-mu tak pernah dia lewatkan, like dan Direct Message yang tak pernah ketinggalan. Saling menyapa saat bertemu, saling memuji perihal makhluk ciptaan Tuhan. Rayuanmu dia terima, hadiahmu dia terima. Segala pemberianmu dia respon baik-baik. Menjaga pemberianmu, membalas segala rayuanmu. Semakin bertambahnya hari, kamu mulai sedikit terbawa suasana. Kamu mulai menyukainya. Kamu, percaya dia akan menerimamu. Kamu mengajak foto bareng, bergaya yang sama dengan warna baju yang sama. Sungguh bahagianya kamu, dia langsung meminta hasil foto tadi. Kamu, langsung menguploadnya di Instagram, sebagai instastory dan unggahan. Captionmu sangat agresif, kata-katamu membawa nama cinta seolah punya rasa yang sama. Belum sampai disini, bahagiamu bertambah. Sama denganmu, dia langsung menguploadnya sebagai instastory dan unggahan. Namun, bedanya dengan kamu, caption yang dia tuliskan, kamu hanya dianggap sebagai teman. Kamu tak boleh bersedih, kamu harus terima. Ini bukan penolakan, ini bukan kegagalan. Hanya saja, kamu harus sadar. Meskipun dia sering melibatkanmu dalam setiap instastory dan unggahannya, belum tentu dia menyukaimu. Kadang, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam membahagiakan orang lain. Maksud dia, mengunggah ya mengunggah foto saja. Kamu, hanya baperan. Dia tak bermaksud membohongimu, kamulah yang harusnya sadar diri.
Sosial media, atas segalanya terimakasih sebanyak-banyaknya.
Jadi.
Manakah kamu? Di manakah kamu? Manfaatkanlah sosial media sebaik mungkin. Jangan jadikan sosial media sebagai kebencian. Berhentilah merendahkan, dan berhentilah menghujat. Jadilah pengguna sosial media yang bijak.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete:)
Delete