Saturday, November 21, 2020

MERELAKANMU SEUTUHNYA



Hari ini cuaca sangat cerah, malam hari selepas pulang kerja aku lanjutkan istirahat. Memang hari ini sungguh melelahkan. Terlepas dari mewajari bahwa setiap pekerjaan itu berat, menghadapi sikap ego manusia juga sangat menyakitkan. Apalagi waktu dimarahi atasan. Ya memang aku yang salah sih. Tapi ya udahlah, namanya juga kerja. Singkirkan dulu perihal beban, kini rebah sudah tubuhku di kasur ternyaman. Sebelum teringat, ternyata seharian aku belum buka HP. Hari ini aku lupa ngga bawa HP karena bangun kesiangan. Saking terburunya karena takut telat, pikirku mandi dan ganti baju sudah cukup. 


"Ting ting ting ting ting ting" (notif Whatsapp)


"Loh tumben ini notif grup kelas rame, banyak banget," kataku dalam hati. 


Ternyata hari ini adalah hari ulang tahunmu, ulang tahun yang ke-22. 


Ah, aku jadi merindukanmu. Sudah 2 tahun kita tidak saling menghubungi, padahal kita saling save nomor Whatsapp. Yaa dalam artian, kita cuma jadi penonton story satu sama lain. Kita sudah punya kehidupan masing-masing, cara kita menghadapi hidup mungkin juga berbeda. Semenjak kejadian 2 tahun yang lalu, kau jadi sosok yang berbeda dari biasanya. Kau mulai mengasingkan diri pada teman-teman seperjuanganmu, bahkan keputusanmu mengasingkan diri itu membuatmu semakin dibenci orang disekitarmu. Tapi, satu hal. Aku sama sekali tidak membencimu. Meskipun sedikit kecewa, aku coba memahamimu. Jadi kamu memang ngga mudah, itu yang orang lain perlu tau. 


"Nampaknya, tidurnya nanti aja deh." tuturku. Mungkin membaca history chat akan sedikit mengobati rindu. Masa-masa indah di sekolah, awal kita bertemu. 


----------------------


Pertengahan 2016, Tuhan memberikan kesempatan bagi-ku untuk bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Mengizinkan aku untuk menulis segala peristiwa penting yang terjadi kala itu. Hal-hal tentang adaptasi menumpuk pada tahun pertama kita. Kita layaknya manusia biasa yang berbicara setiap kali bertemu. Tidak ada hati yang berdebar, tidak ada gerak tubuh gemetar—semua biasa saja. Benar. Tahun pertama-ku denganmu, rasaku belum tumbuh.



Tidak ada sedetik-pun aku memikirkanmu, apalagi berharap menjadi pacarmu? Kala itu. Tidak ada rasa perih saat mendengar ternyata kau sudah punya kekasih, apalagi membayangkan wajahmu? tahun itu. /Perasaanku masih dihantui bayang-bayang masa lalu/. Selayaknya manusia yang baru meninggalkan kampung halaman untuk selamanya. Seminggu, dia rindu. Sebulan, dia ingin kembali. Setahun, mulai nyaman dan siap memulai kehidupan baru. Adaptasi-ku cukup berjalan lambat, terlepas aku berjumpa orang-orang baik disana. 


Barulah, tahun kedua. 2017, hal-hal yang sama sekali tidak terbayangkan benar-benar terjadi. Kita terfasilitasi  oleh kegiatan kelompok yang entah kenapa Tuhan selalu mengizinkan kita bersama. Hal itu membuat kita semakin dekat. 


Aku jadi mulai penasaran denganmu. Apakah rasa ini mulai tumbuh? Mungkin saja. Entah apa, yang membuat kita selalu bersama dalam setiap tugas kelompok, seolah tidak ada partisipan lain yang pantas bersanding denganmu selain aku. Setiap kali kau berbicara, perhatian hingga mengajak ngobrol, aku selalu hilang kata. Di depanmu, aku selalu mati kutu. Entah kemana otak-ku berkelana. Seperti membawaku ke dalam khayalan tentang peristiwa-peristiwa imajinasiku. Aku sangat kebingungan.


Pikiranku, "Ngga lah, ga mungkin aku suka sama dia, enggalah mana mungkin dia mau sama aku. Dia juga udah punya pacar." Kadang sampai ingin menjauh tapi entah kenapa ngga bisa. "Kenapa aku mikir kek gini sih, kenapa sampai sejauh ini ya ampun, gila aku kenapa bisa jadi begini." Jadi bingung. Semakin ditahan semakin kepikiran, aku bahkan tidak tau kenapa bisa jatuh cinta denganmu. Seolah-olah rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Hari demi hari. 



Sering kita bersama, bercanda tawa tentang topik kehidupan, membahas tentang hal-hal yang akan terjadi setelah kita lulus sekolah. Kau begitu penasaran dan tidak sabar menanti, sementara aku khawatir kau pergi. Mungkin aku yang kalah,  aku yang terlalu dimasukan hati. Seolah semua yang aku bayangkan akan menjadi kenyataan. Seolah apa yang selama ini kau lakukan padaku, membuatku yakin bahwa kau menyukaiku. Di hari itu aku mulai sadar, bahwa selama ini aku mencintaimu. 



Apakah ini wajar? Mencintai teman sendiri? Aku takut hubungan ini hancur.



Sampai tiba dipenghujung tahun 2018, masa menghitung hari sebelum kelulusan tiba. Aku senang hubungan ini terus berkembang. Aku semakin dekat denganmu, bahkan mungkin tahun ini adalah tahun pembuktianku. Dengar-dengar, hubunganmu dengan pacarmu sedang di ujung tanduk. Sepertinya, itu pertanda Tuhan memberiku izin untuk memilikimu. Namun, mungkinkah semudah itu? Apakah aku siap menerima risikonya? Bagaimana jika aku ditolak? Bagaimana jika pertemanan ini hancur? Segala perkara buruk aku pikirkan setiap hari. Aku benar-benar berada di fase kosong. 


Di dekatmu, segala pikiran burukku seolah sirna begitu saja. Perhatianmu, kata-katamu, senyumanmu, tawamu, membuatku semakin luluh dan berharap lebih kepadamu. Aku terlalu baper dalam menanggapi segala celotehanmu yang mana bagimu itu hal biasa. Bahkan kau melakukan itu ke semua orang.


Itu masalahnya.


Aku selalu bercerita tentang hidupku, kegiatanku, keluh kesahku, aku terbuka denganmu. Segala hal baik-buruk aku ceritakan padamu. Adalah sebuah hal yang mustahil aku lakukan kepada orang lain, tapi kamu sekalipun tak pernah. Sedikitpun bercerita. Apakah tidak sempat? Apakah takut merepotkanku? Aku sama sekali tidak paham tentang pola pikirmu. Aku peduli denganmu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, bahkan aku ingin terus bersamamu. Tapi, kau? Apakah sama?


Hingga tibalah aku di masa memahami. Aku-pun mencoba menjauh. Dengan harapan kau mencariku. Dengan harapan kau merindukanku. Tapi, kenyataannya? 


Sia-sia.


Bahkan kau biasa-biasa saja. Kau  tidak berusaha menghubungiku dulu, mencariku atau bahkan mencemaskanku. Seperti tidak ada hal yang aneh dikehidupanmu. 


Geram, bingung, dan kecewa. Apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-sampai ku buat story whatsapp tentang isi perasaanku padamu, dengan harapan kode itu sampai ke hatimu dan kau bisa memberi penjelasan. Tapi masih saja, kau tak peduli. Tidak ada respon darimu. Kau melihat, kau membaca juga mungkin, tapi kau seolah anggap semua itu angin yang berlalu.


Anjing.


Aku merasa bodoh

Aku merasa sia-sia

Aku merasa tidak berguna

Aku merasa payah

Aku benci pada diriku sendiri.


Aku rasa sudah jelas, tanpa aku mengungkapkan rasa saja, aku sudah merasa tertolak. Dengan sikapmu yang seperti itu, bukankah sudah jelas? 


Aku benci dirimu. Aku berada pada masa kehancuran. Hatiku seolah remuk dihajar oleh harapan omong kosong ini. Namun, logikanya—kenapa aku membencimu? Bukankah semua ini aku yang memulai? Bukankah semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak bergerak? 



Aku sadar,

Aku termakan harapanku.

Yang pada akhirnya menjerumuskanku ke patah hati. 


Lalu aku-pun memutuskan untuk pergi, mencoba membuangmu jauh-jauh. Tidak peduli, cuek, memblokir segala sosmedmu. Namun, kamu masih saja tidak peduli. Bahkan tidak tau jika aku blokir! Hal-hal yang aku lakukan malah membuat jiwaku semakin resah. Patah hati ini seolah aku sendiri yang membuat. Padahal tetap saja rindu, pingin ngobrol, curhat, ketawa bareng, jalan bareng.


 *Akhirnya juga aku unblock.


Sampai tiba 2019. Merelakan yang sudah, itu sedikit lega. Jangan sampai mengulangi kesalahan yang lalu. Masih banyak cara lain. Jika ditanya bagaimana perasaanku? Aku tetap sama. Aku mencintaimu, aku mengharapkanmu. Namun, bedanya aku akan coba sedikit bersabar. Perjalanan masih panjang, masih banyak mimpi-mimpi yang harus digapai. Dan bila nanti, aku sudah menjadi versi terbaik diriku, aku yakin kamu akan mencintaiku.



Waktu-pun semakin berlari, kita berpisah untuk menghadapi dunia. Doaku kau selalu sehat dan tetap menjadi dirimu yang aku kenal. Tunggu aku, kau harus tau itu. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa dirimu untuk bersamaku. Kita punya kehidupan sendiri. Aku hanya berharap yang terbaik untukmu.



Datang sudah akhir 2019, tak terasa sedini ini. Sabtu, 6 Oktober. Sore hari pukul 4, hujan badai dari pagi hingga sore. Tidak biasanya seperti ini. Beruntung, hari ini tidak ada agenda kemana-mana. Cukup menikmati suara hujan hari ini. Melihat anak-anak kecil bermain bola, melihat kucing yang meneduh dibalik pintu rumah, burung-burung yang berhenti berterbangan. Tak terasa, ya. Aku sudah tumbuh dewasa. 


Di banding harus meratapi kehidupan, aku lebih suka membayangkan hal-hal baik. Seperti menjadi orang kaya, bagaimana jika aku terkenal, bagaimana jika saat aku jadi pacarmu. Aku sering membayangkan kejadian-kejadian yang bahkan belum pernah terjadi dikehidupanku. Seolah-olah kau sedang di depanku. Menggandeng tanganku, kulineran, berjalan mengelilingi kota hingga lupa waktu. Hal yang membuatku tersenyum bahkan berbicara sendiri ternyata adalah ilusi.


Ah, andai saja semudah itu.


Aku-pun mengambil HP dan menilik media sosial hari ini. Menengok kegiatan teman-temanku; mengerjakan tugas kuliah, makan-makan, belanja, travel. Pada dasarnya, melihat mereka bahagia adalah hal yang membuatku bahagia juga. 


Tapi, hari itu ada yang aneh.

Yaitu kamu.


Aku dibuat kaget dengan story Whatsappmu yang berisi unggahan foto laki-laki yang kau sematkan emoji love di sana. Seolah dia adalah laki-laki terbaik yang kau pilih, laki-laki yang kau harapkan bisa menerima baik burukmu. Senang dan bangga sekali nampaknya, kamu.



Hingga tibalah akhir 2020, kau-pun menikah. 


Lagi-lagi, sakit hati setelah sekian lama. Remuk sudah semua harapanku, buyar sudah rencana masa depanku. Kau kunci rapat-rapat sudah hatimu. Tidak ada kabar apapun, tanpa mengundang teman-temanmu, termasuk juga aku. /Karena semenjak kau bertemu laki-laki itu, kau mulai berbeda dan mengasingkan diri./ Menjauh atas dasar yang tidak jelas. Aku paham akan kejamnya dunia ini, aku juga paham akan gilanya kehidupan ini. Tapi perubahan yang buruk membuatku bertanya sedang terjadi apa dalam kehidupanmu? Kamu kenapa? Kenapa tidak cerita? Kenapa dengan mudahnya menghilang?


3 bulan setelahnya, kau melahirkan anak pertamamu.


Semakin tak percaya atas segala yang terjadi. Perih sekali, sama sekali tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Masih juga mencoba merelakan, datang lagi hantaman maut.


"Ya sudahlah, mau gimana lagi." Tuturku, menenangkan diri.


Sebagai sosok dewasa, sedih terlalu larut itu sia-sia. Yang ada adalah merelakan. Karena kembali lagi, merelakan adalah hal yang membuat hati lega. Meskipun ada sakit hati, penyesalan seperti lagi-lagi kalah start, lagi-lagi masih cupu hanya berani diam saja. Ya sudah, hidup harus terus berjalan. 


Setelah peristiwa itu kau menjadi sosok asing. Sementara, aku masih saja berkelana mencari jati diri-ku yang sampai saat ini belum ku-temukan. Mencoba hidup dengan melupakan masalah yang ada. Terus berusaha menjadi orang baik bagi orang-orang disekitarku. Masalah hati, mungkin melupakan akan sedikit berlangsung lama. Karena itu, jalani saja kehidupan ini. 

------------------------



Sialan, selama ini aku melamun tentangmu. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Besok masuk pagi.  Senang  malam ini masih sempat memikirkanmu lagi. Huh, pada intinya terimakasih, ya. Terimakasih telah membuatku pernah mencintaimu. Sehat-sehat selalu ya.





Share:

0 comments:

Post a Comment